Minggu, 22 Juli 2012

Acceptance...


Sebuah empati tidaklah akan menjadi sebuah kehangatan yang memulihkan ketika rasa empati itu tidak diiringi dengan penerimaan.  Penerimaan merupakan kesediaan untuk menerima apa adanya dengan tidak melihat sisi kelemahan, kegagalan dan kesalahan seseorang sebagai sarana untuk menghakimi orang tersebut. Penerimaan menempatkan semua yang negatif pada konteks yang tepat, dengan melihat seseorang sebagai kesatuan pribadi yang utuh dan unik.  Penerimaan bukan berarti membenarkan atau menetralisir apa yang salah namun merupakan sikap positif yang menyatakan kasih.

Saya semakin mengerti apa artinya Penerimaan ketika berada dalam lingkungan yang melakukan hal tersebut maupun yang tidak melakukan hal tersebut.

Bagi sebagian besar masyarakat kita, kegagalan bukanlah suatu hal yang wajar. Orang yang gagal akan dipandang sebelah mata oleh orang yang lainnya. Sehingga adalah wajar ketika orang-orang akan lebih cenderung senang untuk bersaing dan berambisi untuk menjadi  nomor satu, dan akan depresi ketika apa yang ia angankan untuk tercapai ternyata gagal.

Namun berbeda dengan sebuah lingkungan yang mana baru-baru ini saya tinggali. Tadi pagi saya bertemu dengan seorang teman yang saya kenal ketika studi sama-sama di kota ini, teman ini telah berkeluarga dan telah memiliki 2 orang putra. Dalam perjalanan pergumulan studi dan keluarga serta harus beradaptasi dengan ekstra di kota yang baru ini, semua tekanan tersebut membuat dia harus memutuskan mengakhiri studi nya di tengah jalan dan lebih memilih memprioritaskan keluarganya. Bebannya tidaklah mudah, karena ia adalah kepala keluarga. Setelah sekian lama tidak pernah bertemu, saya bertemu dengan beliau kembali tanpa disengaja. Ia men-share-kan cerita hidupnya setelah ia tidak studi. Dari sharingnya membuat saya yakin bahwa keputusannya akan studinya adalah yang terbaik  yang ia putuskan baik bagi dirinya sendiri maupun keluarganya. Hal yang lebih ajaib lagi bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka, melainkan Tuhan telah mempersiapkan sebuah ladang pelayanan yang baru yang mana mereka bertumbuh lebih “sehat” melalui pelayanan tersebut. Di dalam ceritanya saya tertegun ketika ia berkata bahwa ketika dia ditawarkan sebuah pelayanan untuk memimpin sebuah lembaga pendidikan, dia terkejut karena dia merasa dirinya adalah orang gagal karena tidak melanjutkan studinya dan sempat mempertanyakan tawarab tersebut. Namun orang yang menawarkan tersebut tidak berfokus pada latar belakang itu, dan hal itu membuat dia berani untuk menerima tawaran dan sekarang memimpin di sekolah tersebut.

Sebuah penerimaan yang apa adanya.

Peristiwa tersebut juga mengingatkan saya akan cerita Daud di gua Adulam. Ketika Daud depresi, penuh tekanan, dikejar-kejar oleh rajanya, bahkan ia sempat menjadi seperti orang gila di Gad.  Daud yang melarikan diri dari Saul, Ia bersembunyi di Gua Adulam, sebuah gua di dekat tempat itu dan berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Di tempat itu ia menghimpun kekuatan pendukung, yang terdiri dari orang-orang yang kecewa dan sakit hati Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang. Terkadang apa yang tidak pernah dipikirkan oleh manusia, disangkanya ke depan adalah gelap, namun Allah memiliki rencana lain. Penerimaan semua orang-orang “gagal” menurut dunia ini menjadi tempat pemulihan bagi Daud.

Ketika para orang gagal dari kacamata dunia ini berkecil hati, serta kebingungan untuk melanjutkan hidupnya, Allah menyediakan sebuah wadah orang-orang percaya yang menjalankan tugas dan panggilannya sebagai wadah yang menyatakan kasih dan penerimaan, melakukan seperti yang juga Kristus lakukan selama di dunia.

Kristus menerima semua orang berdosa yang datang kepada-Nya. Kristus hadir di dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang. Kristus menerima mereka, tidak membuang mereka, meskipun mereka “dibuang” oleh saudara-saudara sebangsa mereka. Kristus menunjukkan depth acceptance-Nya, mengampuni tanpa menghakimi seorang wanita yang ketahuan berzina. Kristus menerima orang-orang yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Kristus menerima orang-orang yang dipandang gagal, dipandang salah, dipandang lemah oleh sekitar mereka.

Luk 5:31  Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;


Gagal itu wajar..


Gagal itu wajar..

Jarang sekali kita mendengar kata-kata tersebut, yang sering kita dengar adalah Kamu harus menjadi orang sukses, “If You Dream it, You can Do It”. Kata-kata motivasi dan kata yang bernada positif serta mendorong seperti hal di atas ini tidaklah salah, namun persoalannya sepertinya kita jarang sekali memberikan edukasi kepada anak-anak, adik-adik kita atau bahkan kepada diri kita sendiri bahwa Kegagalan adalah sesuatu yang wajar.

Terlalu seringnya pemahaman positif pembangkit semangat yang masuk dalam pemikiran dan telinga orang zaman sekarang, menyebabkan terlalu rapuhnya mental mereka untuk menerima sebuah kekalahan atau kegagalan. Gagal identik dengan sesuatu yang berarti kalah. Dan manusia mana yang ingin kalah? Setiap manusia ingin sesuatu yang semakin hari semakin menanjak tinggi.

Pemahaman yang salah mengenai gagal terkadang dapat menyebabkan mental orang juga menjadi mental penakut. Semakin sering penekanan orangtua terhadap anak harus menjadi nomor satu dan sukses menjadikan harapan orangtua tersebut menjadi harapan si anak. Anak menjadi orang yang result oriented. Akibatnya ketika suatu kali ia tidak mendapatkan hal yang ia idamkan tersebut maka terpuruk jugalah 'sakit' anak itu. Jika tidak diobati dengan benar maka sangat mudah bagi anak untuk menjadi penakut yaitu takut gagal.

Pembelajaran dari keluarga terutama orangtua sangat diperlukan dalam hal mendidik anak-anak dan memberitahu anak-anak bahwa dalam hidup ini tidak adil. Life is not fair. Hidup ini tidak adil dimengerti dalam konteks  kehidupan manusia di dunia yang penuh dosa ini menjadikan anak-anak sangat mudah untuk mendapatkan sesuatu yang tidak harapkan. Kenakalan teman , kejahatan yang tidak pada tempatnya, dan kegagalan. Semua hal yang bernada negative adalah sesuatu yang wajar. Hal ini bukan berarti kita sedang mengajarkan pahan pesimis dan takdir. Namun membukakan kepada anak-anak bahwa inilah realita dari akibat dosa, siapa saja dapat menjadi korban dari dunia yang tidak sempurna ini.

Kegagalan dalam ritme kehidupan manusia yang mengerjakan mencapai sesuatu adalah wajar. Wajar karena kegagalan merupakan suatu proses bagi kita. setiap hal yang kita alami dalam hidup ini baik yang enak maupun yang tidak enak adalah proses. Kita sedang mengajarkan kepada anak-anak mengenai apa artinya dan bagaimana prose itu.

Ketika gagal terjadi, bukan berarti kita menjadi loser dan kalah, namun kita sedang diajak berproses di dalam setiap proses gagal untuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga dibandingkan sebuah kesuksesan, yaitu pembelajaran hidup. Di sini  kita tidak sedang mengajarkan anak-anak untuk mempunyai mental gagal dan cepat berpuas diri. Namun bagi anak yang memiliki kecenderungan prefeksionits sangat mudah juga bagi anak itu untuk tidak dapat menerima yang namanya gagal. 

Kegagalan adalah sesuatu yang wajar dan proses yang akan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih hidup. Bangkit dari kesedihan akan kegagalan dan menata kembali kehidupan dengan pelajaran kehidupan akan menjadikan hidup ini lebih bermakna. 

Hidup yang dimiliki anak-anak bukanlah hidup untuk dipenuhi ambisi arang tua dan ambisi anak itu sendiri. Melainkan peran orang tua adalah bagaimana membimbing anak-anak mereka untuk memiliki hidup yang dipenuhi dengan tujuan dan rencana Sang pencipta-Nya. Karena setiap manusia adalah unik dan berharga setiap manusia memiliki agenda Allah dan seharusnya menjalan agenda yang Allah telah agendakan tersebut, bukan agenda pribadinya. Dalam menjalankan agenda Allah, Allah yang benar dan tidak pernah salah tersebut memegang control penuh dan dalam kedaulatan anugerahNya Ia mengizinkan kesuksesan dan kegagalan menjadi bagian proses untuk membentuk anak-anak menjadi pribadi dengan agenda Allah.


Jika kita mengalami sebuah kegagalan hal itu adalah wajar dan kita sedang berproses di dalamnya dan jika kita mengalami kesuksesan hal itu adalah Anugerah dari Allah dan kita juga sedang berproses di dalamnya.


Jumat, 20 Juli 2012

hanya anugrah-Nya


Siapa yang tidak kenal lagu dengan lirik ini

Bukan karna kebaikanmu
Bukan karna fasih lidahmu
Bukan karna kekayaanmu
Kau dipilih kau dipanggilNya

Bukan karna kelebihanmu
Bukan karna baik rupamu
Bukan karna kecakapanmu
Kau dipanggil, kau dipakaiNya

Bila engkau dapat, itu karenaNya
Bila engkau punya semua daripadaNya

Semua hanya anugrahNya
DibrikanNya pada kita
Semua anugrahNya bagi kita
Jika kita dipakaiNya

Lirik lagu ini sederhana namun memiliiki arti yang dalam, di awali dengan sebuah kesadaran diri bahwa tidak ada satu alasan pun yang datangnya dari diri manusia ketika manusia itu dipanggil dari terang menuju gelap, bahkan ketika manusia / kita yang telah dipanggil dari gelap menuju terang tersebut diberi kesempatan ambil bagian dalam mengerjakan pekerjaan Kerajaan Allah, itu hanyalah karena Anugerah-Nya semata.. Seringkali tanpa disadari kecenderungan manusia untuk membanggakan diri dan meninggikan diri ketika ia sedang berada di posisi yang tinggi sangat besar.  

Ketika mendengarkan lagu ini lagi, ternyata nada lagu ini dan liriknya kembali menyentuh hati saya, tanpa terasa perasaan yang tersentuh itu terekspresikan melalui air mata…
Pujian ini, pujian yang tak kekang dimakan oleh waktu, meskipun lagu-lagu rohani kontemporer yang lain bermunculan, namun pujian ini tetap menjadi berkat sekalipun telah 
didengar berkali-kali.

Pujian tersebut mengingatkan dan menyadarkan kembali status kita, manusia dan Dia, Allah..

Semua hanya Anugrah-Nya dibrikan-Nya bagi kita…
Semua Anugrah-Nya bagi kita bila kita dipakai-Nya…




Rabu, 13 Juni 2012

batu....


Perjalanan ini di mulai dengan sebuah langkah di dalam iman dan ketakutan, namun panggilan itu jelas 
terdengar dan bergema di dalam kedalaman titik hidup.

Perjalanan bersamaNya dilalui hari lepas sehari. Dilalui bersamaNya dengan penuh rasa, warna dan air mata. Meskipun kadang tak mengerti akan banyak hal dan bertanya alasan di balik semuanya itu.  Semuanya dilewati dengan tanda Tanya besar dan  hanya anugerah-lah yang membuat iman tetap bertahan.

Terbayang perjalanan ke depan nanti, pasti penuh dengan batu, ada batu besar, sangat besar, ada batu kecil namun tajam. Batu-batu itu harus dilewati!. Ingin rasanya menyingkirkan dahulu batu-batu tersebut baru berjalan di jalan mulus itu. Namun sekuat apapun tenaganya untuk menyingkirkan batu itu, BATU itu tetap akan ada…. Ia tetap akan menjadi batu besar dan batu kerikil tajam.

Fokusnya tertuju pada batu dan ukuran batu itu… 
ya itu fokusnya dahulu..  
akibatnya ia terlalu pengecut untuk menjadi pelangkah.

Namun sekarang,

Bukan batu-batu itu lagi fokusnya! Batu-batu itu akan tetap ada dan akan tetap menjadi batu yang harus dilewatinya.


Matanya menoleh ke sebelah kanannya, dan memorinya melayang pada ingatan mula-mula.

Ia tidak berjalan sendiri. Ia sedang berjalan denganNya. Yang sekarang menjadi fokusnya adalah berjalan bersama Dia melewati batu-batu itu dalam perjalanan ini. Tak penting lagi seberapa besar batu di depan mata dan seberapa sakit kaki ketika tertusuk kerikil tajam. Sekarang ia sedang berjalan bersama Dia.

Dia selalu menyertainya dan tak akan pernah ditinggalkan.

“With God be with me is enough for me”..
Just for grace to trust Him more…

Rabu, 30 Mei 2012

sadness....


Penderitaan bagian dari manusia…

Jika manusia mengalami penderitaan itu semua berada dalam kedaulatan Allah, Ia mengizinkan manusia mengalaminya, namun Ia tidak pernah berkenan hal itu terjadi. Hal penting yang tetap perlu diingat bahwa Ada Allah yang pegang kendali..  God is Good!

Jika Allah mengizinkan itu terjadi karena Allah tahu manusia telah siap menjalankan kehendakNya. Ia tidak akan menyatakan kehendakNya jika manusia tidak siap menjalankannya.

Dalam kehendak manusia, kita hanya tahu sejengkal saja sesuai pikiran kita, padahal Allah sedang merencanakan sesuatu yang lebih dari itu. Rancangan Allah jauh melebihi apa yang kita pikirkan.

Allah tidak pernah mengambil! Ia malah yang memberi..



trust

Tidak terasa sudah satu tahun saya hidup di kota ini, hari demi hari diarungi dengan banyak sekali warna. Hari berganti hari saya belajar percaya dan berharap kepada Ia yang memanggil.

Percaya, kata yang seringkali kita dengar. Kata ini memiliki banyak padanan kata misalnya beriman, trust believe. Saya suka dengan kata percaya dan bagi saya kata percaya ini identik dengan TRUST. Percaya sepenuhnya, bergantung sepenuhnya, meskipun berada di jalan yang gelap.

Untuk Percaya diperlukan keberanian untuk percaya, dibutuhkan kerelaan hati untuk taat, meskipun tidak tahu. Walaupun tidak dapat melihat jalan-jalannya, tetap percaya dan berharap. Ketika tidak mengerti dan tidak dapat melihat rancangan-rancangan agendaNya, bahkan  tidak bisa meraih tanganNya, aku percaya pada hatinya. Hatiku percaya kepadaNya.

Yang penting dari percaya adalah kita tahu kepada siapa kita percaya. Kepada siapa engkau percaya? Kepada Allah, hanya kepada Allah saja aku percaya. Aku percaya Ia adalah Allah yang tidak pernah salah. Ia adalah Allah yang terlalu bijaksana untuk berbuat kesalahan. Kepada Allah aku percaya. Kepada Allah yang terlalu baik untuk menjadi tidak baik. Kepada Allah yang hikmatNya tak terselami dan mengetahui segala sesuatunya aku percaya. 

Ia, Allah yang mengontrol segala sesuatu, aku percaya seluruh kehidupanku berada dalam control Allah yang baik karena Ia adalah Allah yang benar dan tidak pernah salah.
Ia adalah Allah yang memiliki agenda. Di dalam Dia aku telah diagendakannya sesuai agendaNya bahkan jauh aku belum dilahirkan.

Ia adalah Allah yang mengetahui segala sesuatu lebih baik daripadaku. Ia mengetahui jalannya. Ku lepaskan semua keinginanku untuk mengerti kenapa dan melihat bahwa hal yang terbaik yang bisa kulakukan adalah menempatkan kepercayaanku kepada Dia.



Kamis, 19 April 2012

robek...


Dari jauh agak kedekatan, Ku pandangi orang-orang yang akan melewati pintu itu, satu per satu ku lihat. Mereka hanyalah orang biasa, mereka berpakaian robek.

Ada yang robeknya di atas, ada yang robeknya di dalam, 
Ada juga yang robeknya banyak, ada juga yang robeknya sedikit. 
Ada yang robeknya kecil, ada yang robeknya besar. 
Ada yang robeknya kelihatan, ada yang robeknya tersembunyi. 
Ada yang robeknya hampir semuanya, ada yang robek sebagian.
Ada yang robeknya tidak mau diperbaiki, ada yang robeknya bisa diperbaiki
Ada yang robeknya parah, ada yang robeknya tidak parah.

Aku juga berencana masuk ke pintu itu, namun aku tidak dapat masuk karena aku berpakaian robek. Akhirnya aku menunggu di luar sambil melihat lalu lalang orang-orang itu. pikiranku berjalan bolak-balik, kenapa aku tidak dapat masuk? Aku bandingkan dengan dia yang robeknya lebih parah dari aku, aku bandingkan dengan dia yang robeknya lebih besar dari aku, aku bandingkan dengan dia yang robeknya lebih banyak dari aku.
Aku protes!

Kakiku ingin melangkah protes, seperti panas terik dengan deruan ombak bertubi-tubi dan berkejar-kejaran ingin sampai dahulu hingga ke tepi. Namun di antara awal dan akhir, Dia memegang lenganku dan tersenyum. Dalam ketidaksadaran aku sadar akan senyum itu.

Aku.. aku telah menjadi penghakim diantara. Aku merasa diri layak dan lebih layak dibandingkan para orang berpakaian robek lainnya. Aku pikir aku lebih baik dari mereka.

Aku tertunduk memandang sobekan pakaianku. Angin berhembus membuat rambutku berterbangan, seluruh badanku terasa segar oleh hempasan angin tersebut, angin masuk dalam telinga dan seakan berbisik lembut “semuanya berpakaian robek”.


-d^^-




Sabtu, 24 Maret 2012

coretan isi hatinya... *imagined


Munafikk…. *Rasanya ingin berteriak kata itu sekuat-kuatnya.. tapi tidak mungkin..

Aku seorang anak kelas sekolah dasar yang biasa biasa saja..

Ada guru yang memanggilku ganteng, ada juga guru yang memanggilku lucu.

Aku tak tau kenapa mereka memanggilku seperti itu

Aku rasa aku biasa biasa saja..

Prestasi kelasku juga biasa biasa saja, tidak terlalu menonjol bagus tapi tidak terlalu jelek juga

Di dalam kelas aku juga biasa saja, biasa terkenal tukang ribut dan jalan-jalan di kelas. Aku juga biasa suka bermain dengan teman-temanku.

Suatu kali aku sempat mendengar pembicaraan guruku di dalam kelas ketika aku duduk dibarisan depan.

Mereka sedang bergosip tentang guru yang lain yang aku tak tau siapa. Tapi aku tau apa yang mereka katakan.

Mereka bilang guru tersebut tidak melakukan yang  tidak boleh ia lakukan. Itu yang aku tangkap.

Hari ini seperti biasa aku bangun pagi dan sudah ku susun semua buku-bukuku ke dalam tas sekolahku. Kotak pencil dan buku tulisku sudah kuletakkan di dalam tas rasanya.

Tapi…

Pagi itu aku datang ke sekolah seperti biasa dan sesampai di sekolah seperti biasa juga aku suka sekali bermain lomba lari dengan temanku sampai bunyi bel mengharuskan aku dan teman-teman berbaris rapi.

Setelah baris kami diminta masuk satu per satu secara rapi dan teratur sambil memberi salam dan menyapa selamat pagi bu!

Sewaktu akan membuat agenda aku meraba-raba tasku untuk mengambil kotak pensilku. Tapi ternyata ia tidak ada, aku penasaran akhirnya aku membongkar isi tasku dan tetap tidak kutemukan kotak pensilku.

Pikirku aku sudah memasukkan lantas aku diam saja dan rasanya aku ingin maju kedepan dan meminjam pensil guruku tapi aku takut.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk meminjam , ku pikir guruku adalah orang yang pengertian lagi pula ini baru pertama kalinya aku ketinggalan kotak pensil.

Ternyata tidak kusangka guruku marah besar..

Pagi-pagi benar dia sudah marah-marah..

Pelajaran satupun belum kuterima tapi dia sudah memarahi aku..

Dengan kata-katanya yang tajam itu dia memarahai aku dan aku hanya bisa diam dengan muka ke bawah.

Dia memarahai ku di depan kelas dan dilihat didengar oleh semua teman-temanku

Betapa malunya

Dia  menyuruhku duduk dan tidak memberi solusi apa-apa, satu pensil tumpul untuk menulis tidak dia berikan dengan alasan sebagai pembelajaran buat aku agar aku tidak lupa membawa lagi.

Aku hanya bisa diam seperti biasa..

Dimana teman-temanku semua sedang menulis agenda yang penting untuk dibawa esok harinya, aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Setelah semua selesai aku melihat guruku yang satu lagi. Aku tau dia pasti akan menolongku, tapi aku tau , ku lihat diwajahnya dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika main  teacherku sudah memarahi aku.

Ku lihat guru itu mengeluarkan beberapa pencil yang baru diruncingnya. Dia melihatku dan aku melihatnya.

Tapi main  guruku memanggilku dan memberikan pensil itu, kemudian mendisiplinku dengan menyuruhku menulis agenda sendiri di depan kelas dibawah papan tulis.
Seperti biasa aku pun melakukannya.

Guru  agamaku datang.. senangnya hatiku karena aku bisa mendengarkan cerita lagi.

Tapi ternyata aku masih harus menyelesaikan hukumanku tersebut dan akhirnya aku ketinggalan cerita yang sangat aku sukai itu. Cerita tentang Alkitab.

Uhh… betapa sebalnya

Sedih nya aku harus mendapat guru seperti dia. Dia munafik..

Rasanya dia manis ketika renungan pagi , dia manis ketika ada  guru  yang lain.. Dia manis di depan orang lain… 

Tetapi ternyata dia munafik, dia berkata kasar dan  tidak mendidik aku dengan benar, dia menghukum aku dengan pilih kasih. 

Aku yang baru sekali salah dia langsung menghakimi aku, sedangkan temanku yang lain yang telah salah berkali-kali tidak dia disiplin.

Dia bilang kalau disiplin hanya berlaku di waktu pelajaran guru yang bersangkutan tetapi ketika guru fak maka murid harus belajar. 

Tetapi dia tidak seperti itu terhadap aku. Dia berkata sangat manis sekali di depan guru fak. Tetapi sangat kasar di depan murid-muridnya ketika muridnya ada salah.

Dia berkata sebagai seorang guru seharusnya tidak boleh begitu, tapi dia begitu..

Aku tidak tau arti kata munafik, tapi aku tau guruku munafik..



terserah...


Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan diri untuk menghadiri Ibadah Misi di kampus saya yang sekarang. Walaupun saat itu saya sadari bahwa kondisi fisik saya sedang tidak terlalu fit, namun seperti ada rasa penasaran untuk melihat apa yang disiapkan teman-teman bidang misi.

Sampailah saya di kampus, dan awalnya kami seperti diajak simple ‘touring’ dari kelas ke kelas karena di dalam kelas dijelaskan beberapa suku yang terabaikan dari bagian barat, tengah sampai ke Indonesia bagian timur. Bila ditanya bagaimana perasaan saya waktu, maka saya akan menjawab biasa saja. Tidak bermaksud untuk menghakimi persiapan teman-teman tetapi saya merasa jika mereka lebih lagi persiapannya mungkin setiap presentasi dan atribut lainnya pasti akan lebih berkesan. Mungkin karena saya pernah merasakan dan langsung persiapan hal yang kurang lebih sama konsepnya seperti mereka ketika di pelayanan di sekolah minggu dahulu. Jadi saya merasa lebih bangga dengan persiapan guru sekolah minggu karena Egypt simple touring yang gsm kerjakan waktu VBS lalu lebih Woww.. dan baguss.. *maap ya.. hehe

Setelah itu ibadah dimulai.. saya menikmati Ibadah Misi yang disiapkan teman-teman. Terlintas ketika ibadah dimulai saya jadi teringat dengan teman-teman persekutuan PO BiNus. Tiba-tiba teringat Heri Kurniawan yang sangat cinta dengan Indonesia dengan konsep yang ia pakai selalu etnik Indonesia, teringat persekutuan terakhir biasanya akan membahas tentang bangsa dan negara Indonesia. Sepanjang memori itu terlintas, saya semakin tertegun ketika pujian “Hatiku rindu melihat kemuliaanMu bagi bangsaku…. “ tanpa saya sadari saya terharu dan air mata pun mulai keluar dari tempat penampungannya mengalir keluar. Saya menyadari saat itu rasa haru saya bukan karena moment persekutuan, namun karena saya sadari hati saya ada buat bangsa ini...

Saya kutip beberapa perenungan yang dibawa oleh Bu Ati dalam Ibadah Misi tersebut yang membuat saya kembali merenung apa artinya 'mission passion heart'.....  perenungan tersebut very simple but meaningful and touching..  (Yoh. 4:35)

Terkadang apa yang dilihat oleh Tuhan Yesus >< (baca : bertolak belakang) dengan apa yang dilihat murid?
Bagi murid : ini BUKAN Tempatnya, ini BUKAN orangnya, ini BUKAN caranya, ini BUKAN saatnya..
TAPI
Bagi Tuhan “Lihatlah sekelilingmu” seakan menyatakan bahwa Tempatnya gak jauh-jauh, di setiap tempat itu Tempatnya di setiap orang itu Orangnya. Tuhan ingin  murid menyadari dimana Tuhan menempatkan dia, lihat sekelilingmu karena  lading telah menguning dan siap untuk dituai.
Menjadi Duta Allah seharunsya mendarah daging dalam keseharian kita karena itulah lifestyle-nya kita. 

Melihat apa yang seharusnya dilihat? #Apa toh yang dilihat?
Melihat Apa yang Tuhan ingin saya Lihat? Apa yang Tuhan ingin saya rasakan? Apa yang Tuhan ingin saya lakukan ? LIHAT LADANG SUDAH MENGUNING.

Kenapa murid tidak bisa melihat? KARENA pengalaman dan pengajaran masa lampau mengenai ‘orang samaria' nya... Ya, terkadang kita suka sekali membuat ALASAN kita tersendiri sehingga hal itu menjadi Batu sandungan kita..

MENJADI APA SAJA Yang TUHAN MAU.
MELAKUKAN APA SAYA Yang  TUHAN MAU.
MENJADI ALAT UNTUK SIAPA SAJA Sesuai Yang TUHAN MAU


Diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pemikiran kritis untuk datang menghandiri Ibadah ini, namun saya bersyukur Ia tidak lepaskan saya, namun malah diberikan sebuah kebenaran yang dalam.
"TERSERAH TUHAN .... KARENA AKU TAHU KEPADA SIAPA AKU PERCAYA."

Saya berharap perasaan yang sama juga dirasakan oleh semua orang yang sedang duduk dalam ruangan tersebut, karena merekalah generasi 'pemicu' para pelihat ladang yang menguning selanjutnya.. Ironisnya jika mereka pun tidak mengerti dan tidak membagikan semangat tersebut, termasuk saya...


thanks God
-d^^-



Minggu, 11 Maret 2012

daun


"Daun terbang karena Angin bertiup, atau karena Pohon tidak menginginkannya untuk tinggal??"

“kurasa bukan dua-dua”,  Jawabku saat itu..

Daun terbang karena sudah saatnya ia lepas dari pohon..
Daun terbang walaupun ia tertiup angin
Daun terbang bukan karena angin
Ia tidak akan selamanya terbawa angin,
suatu ketika ia akan terturun terdampar di bawah

Daun terbang juga bukan berarti pohon tidak menginginkannya untuk tinggal
Daun tahu pohon sangat memerlukan daun demi kelangsungan hidup
Begitu juga dengan daun
daun perlu pohon, pohon perlu daun
Mereka saling melengkapi

Namun ada saatnya daun perlu berkorban
Dan menyatakan bahwa waktunya telah tiba
Telah tiba saatnya untuk ia mengundurkan diri
Walaupun daun belum menginginkan saat itu tiba
Daun masih ingin bersama pohon
Dan pohon masih ingin bersama daun
Angin darimana datangnya kemana tujuannya tak ada yang tahu
Angin dipakai untuk membawa daun melayang sekejap dan jatuh

Selasa, 28 Februari 2012

Siap tidak siap hal itu akan terjadi
Siap tidak siap hal itu akan menghampiri
Siap tidak siap hal itu akan datang

Terlalu sedih ketika hal itu terjadi
Terlalu kehilangan ketika hal itu datang
Terlalu pedih rasanya ketika hal itu menghampiri

Rasanya tidak akan pernah siap sewaktu hal itu benar-benar terjadi
Rasanya terlalu kehilangan sewaktu hal itu benar-benar menghampiri
Rasanya terlalu cepat untuk hal itu datang

Ku tak akan pernah tahu kapan waktunya
Tidak akan pernah tahu
Satu hal yang ku tahu ketika hal itu datang
Penghibur juga datang
Karena semua berada dalam kedaulatanNya





Rabu, 18 Januari 2012

Mengenal Dia Diubahkan dan Hidup bagi Dia


Tuhan layakkah aku hingga Kau memilihku?

Dulu akupun seteru-Mu
Di dalam anug’rah-Mu Kau memanggil diriku
O Tuhan diriku milik-Mu kini,
ku mau memberi yang terbaik bagi-Mu

Kau kenal segenap jiwa ku
Kau ubah hasrat hatiku
Baharui hidupku untuk menuju 
rencana-Mu yang mulia
Ku mau mengenal diri-Mu
Diubah oleh kuasa-Mu
Biar hidupku menyatakan
besar kasih-Mu bagi dunia milik-Mu

(Syair&lagu : Gito T.W)

crossroads... (2)

Dia menemukan ini....


Terkasih,
Jalan yang lurus itu seperti jalan tol yang akan membuat dirimu melaju pesat namun tidak dapat efektif... 
Petunjuk laluilah jalan kanan adalah petunjuk yang terbaik bagimu. Karena melalui jalan itu engkau mau ku ajarkan tentang banyak hal. Di jalan kanan itu akan kau jumpai gunung yang dapat kau lihat gagahnya, akan ada sungai kecil yang airnya mengalir pelan namun di dalamnya terdapat arus yang deras, ada juga sungai besar dengan aliran air arus yang deras walaupun ada batu-batu yang besar. Akan ada danau  yang airnya jernih dan indah namun dangkal, disana juga akan kau jumpai lautan luas yang memiliki ombak, ada yang besar ada yang kecil dan saling berkejar-kejaran. Bahkan disana akan kau lihat hutan rindang tempat yang teduh. Disana ada batu karang yang teguh yang akan menjadi tempat perlindunganmu di kala hujan deras menderu.

Nikmatilah dan laluilah jalan kanan itu, karena melalui jalan itu engkau akan semakin diperlengkapi bahkan menjadi pembentuk.

Rasa takut salah, gagal yang engkau rasakan itu adalah sesuatu yang wajar. Aku mengerti engkau langkah yang polos. Namun janganlah rasa itu menguasaimu. Ingatlah ada aku yang akan menyertaimu.

Ada aku yang tidak melihat gagal mu seperti yang mereka lihat dan sangka. Ada aku yang mengasihi mu bukan karena prestasimu mencapai finish. Aku melihat langkah taat dan imanmu.
Aku rindu engkau berjalan bersamaku. Aku rindu engkau melangkah bersamaku. Aku rindu engkau kembali merasakan langkah iman bersamaku. Aku rindu engkau melangkah dalam ku. Aku rindu langkah imanmu, bukan langkah gagahmu.

Taruhlah keyakinanmu padaku. Karena aku tau yang terbaik bagimu. Jika engkau dapat melihat jauh kedepan bahwa kedua jalan itu sama-sama menuju sesuatu yang baik. Maka aku akan memberitahumu bahwa ujung dari jalan itu adalah satu jalan dan benar itu sesuatu yang baik. Jalan kanan ini suatu titik akan menyatu kembali dengan jalan awal langkah iman pertamamu. Namun inilah jalanlah, bukan jalan tol.

Jika benar jalan yang harus ditempuh langkah iman adalah jalan kanan.. Adakah Taat, Percaya, dan Berserahmenuntun ia kembali melewati jalan itu?

Mari tempuhilah jalan itu dengan taat percaya dan berserah bersamaku.

Yang mengasihimu


Minggu, 15 Januari 2012

Still there...


Salah satu hal yang menarik berada di kota kecil ini adalah kota ini dikelilingi banyak pengunungan dan  kostan kami berada tepat dikelilingi oleh salah satu pegunungan dan gunung. Awalnya sampai di kostan baru ini, hal yang sangat menarik bagi saya adalah bisa melihat gunung, udara segar setiap hari. Dan sampai sekarang, tempat yang paling saya sukai adalah balkon belakang karena bisa langsung melihat gunung kala suntuk dengan tugas-tugas. Pelataran balkon belakang kostan tempat saya tinggal tepat menghadap gunung. Kata teman-teman namanya Gunung Arjuna.  Di kota besar dulu, jarang sekali rasanya bisa melihat gunung besar tepat di depan mata setiap hari pula. 

Pagi hari sewaktu matahari baru terbit adalah hal yang sangat indah ditambah dengan langit yang terang dan awan yang bergumpalan cantik berada di sekitar gunung itu, menambah indahnya pagi itu.. saya senang bila mengingat kembali hal itu.. bagaimana menakjubkan dan indahnya ciptaan Tuhan ini di pagi hari bahkan sampai guratan-guratan kaki gunung dan pohon-pohon di badan gunung tersebut tampak, walaupun kelihatannya kecil namun menarik.

Namun terkadang langit tidak selalu cerah dan terang benderang sehingga bisa melihat gunung tersebut dengan jelas. Beberapa terakhir ini, musim hujan mulai datang dan hujan sering mampir di kota ini. Ketika awan mulai mendung, awan tebal abu-abu tersebut menutupi gunung yang besar tersebut sehingga saya tidak dapat melihat kegagahan dari gunugn itu. Gunug tersebut seakan-hilang, karena tak tampak lagi oleh mata ini. yang tampak hanya awan sebatas mata memandang. Keesokan harinya langit cerah dan ketika saya sempatkan untuk melihat gunung tersebut. Gunung tersebut tidak ada karena awan tebal putih bergulung-gulung nan indah itu menutupi dia kembali. 

Terlintas dalam pikiran saya… Bukankah cerita kehidupan juga seperti itu.. Allah yang perkasa selalu ada dan selalu setia berada di dalam kehidupan anda dan saya untuk membuat kita terkagum-kagum oleh karena perbuatan tangan-Nya dalam kehidupan kita. hidup serasa cerah secerah mentari pagi itu. Semua berjalan indah dan menawan.. senang rasanya bisa merasakan Allah selalu ada dan pasti ada di sisi kita.

Namun ketika awan mendung, petanda ombak kehidupan mulai hendak menyerang, seakan akan semua itu menutupi Allah yang perkasa, mata jasmani kita hanya dapat melihat awan gelap di depan mata. Iya, hanya awan gelap di depan mata tak ada gunung tak ada Allah. Bahkan ketika langit begitu cerah dan awan-awan indah menghampiri kehidupan kita, bukankah hal itu juga terkadang membuat kita tidak dapat melihat gunung itu, tak dapat melihat Allah juga. Awan hitam mendung maupun awan putih besar indah menutupi pandangan kita untuk dapat melihat Allah. Dan kita juga terkadang jatuh terpesona melihat indahnya gulungan awan tersebut sehingga kita tidak dapat melihat bahwa dibalik awan itu ada yang pernah membuat kita jauh terpesona dari awan putih indah ini.

Ketika saya mencoba merenungkan kembali sekolah kehidupan saya, saya mendapati bahwa saya hari ini belajar mengenai sesuatu yaitu iman. Ntah itu awan hitam mendung ataupun awan putih indah yang sedang saya lihat sehingga saya tidak dapat melihat gunung tersebut, saya percaya bahwa gunung itu tetap ada dibalik mereka semua. Tetap ada gunung yang kokoh yang sama di sana. Ntah itu dukacita ataupun sukacita yang sedang saya hadapi, rasakan dan alami sekarang. Saya tetap percaya bahwa ada Allah dibalik semua peristiwa yang terjadi dalam hidup saya dan hal itu menyatakan bahwa saya sedang berada di dalam kedaulatan Allah yang penuh dan yang tidak akan pernah beranjak meninggalkan saya. Ia adalah Allah dan tetap akan menjadi Allah dalam hidup saya. Ia Allah yang akan terus membuat saya terkagum-kagum akan karya-Nya dalam hidup saya baik itu ketika awan mendung maupun awan indah.


-d^^-

Sabtu, 14 Januari 2012

crossroads


Menapaki kaki dan berjalan dalam iman tidak semudah ataupun sesusah seperti yang dibayangkan. Ketika kaki iman melangkah satu langkah demi satu langkah.. Rasanya perjalanan ini menjadi perjalanan yang penuh arti..
Ketika mencoba melihat lagi kebelakang, betapa luar biasa tuntunan dan pemeliharaan-Nya. Dan tanpa terasa sekarang langkah sudah melewati garis start..

Langkah demi langkah, berjalan lurus menuju depan.. Perjalanan iman terasa aman, nyaman terkendali.. Dalam perjalanan muncul keyakinan kepastian inilah jalannya.. Berjalan bersama kemampuan, dan keyakinan yang serasa yakin menapaki jalan ini.. Lantas dimana iman?

Ketika melayangkan pandangan ke depan, tampaklah jalan lurus yang akan di lalui.. Namun, Lihat! ada pemberitahuan disana.. di depan ada jalan yang bercabang, dan namanya tercantum disarankan berbelok ke arah kanan.. 

Kebimbangan, pertanyaan, kegalauan menghampiri.. Quo vadis? Kemana? Kemana langkah ini harus menetapkan langkah berikutnya.. Luruskah? Atau Ke kanankah? Perasaan yakinnya melihatkan ia ke jalan lurus, namun jika jalan lurus itu ditutup, haruskah ia ke kanan? Atau kembali? Bagaimana bila ini…… Bagaimana bila itu….  Banyak pertanyaan muncul, sebelum jalan itu benar-benar bercabang.. dan sepertinya tanda-tanda ke kanan itu semakin nyata dan tampak…

Langkah dan kehendak ingin tetap lurus kearah dan tujuan langkah iman yang pertama kali ditempuh. Namun….. bimbang…

Terdengar teriakan ,“Dimana iman? Dimana iman yang kepadanya pengharapan dan pemeliharan-Nya akan terus nyata menyertai.. ?” Tersentak langkah melihat jauh kedepan dan satu hal yang ia tahu bahwa kedua jalan itu sama-sama menuju sesuatu yang baik menurut Dia…

Jika benar jalan yang harus ditempuh langkah iman adalah jalan kanan.. Adakah Taat, Percaya, dan Berserah terus dipakainya mewarnai melewati jalan itu?.

-d^^-