Kamis, 19 April 2012

robek...


Dari jauh agak kedekatan, Ku pandangi orang-orang yang akan melewati pintu itu, satu per satu ku lihat. Mereka hanyalah orang biasa, mereka berpakaian robek.

Ada yang robeknya di atas, ada yang robeknya di dalam, 
Ada juga yang robeknya banyak, ada juga yang robeknya sedikit. 
Ada yang robeknya kecil, ada yang robeknya besar. 
Ada yang robeknya kelihatan, ada yang robeknya tersembunyi. 
Ada yang robeknya hampir semuanya, ada yang robek sebagian.
Ada yang robeknya tidak mau diperbaiki, ada yang robeknya bisa diperbaiki
Ada yang robeknya parah, ada yang robeknya tidak parah.

Aku juga berencana masuk ke pintu itu, namun aku tidak dapat masuk karena aku berpakaian robek. Akhirnya aku menunggu di luar sambil melihat lalu lalang orang-orang itu. pikiranku berjalan bolak-balik, kenapa aku tidak dapat masuk? Aku bandingkan dengan dia yang robeknya lebih parah dari aku, aku bandingkan dengan dia yang robeknya lebih besar dari aku, aku bandingkan dengan dia yang robeknya lebih banyak dari aku.
Aku protes!

Kakiku ingin melangkah protes, seperti panas terik dengan deruan ombak bertubi-tubi dan berkejar-kejaran ingin sampai dahulu hingga ke tepi. Namun di antara awal dan akhir, Dia memegang lenganku dan tersenyum. Dalam ketidaksadaran aku sadar akan senyum itu.

Aku.. aku telah menjadi penghakim diantara. Aku merasa diri layak dan lebih layak dibandingkan para orang berpakaian robek lainnya. Aku pikir aku lebih baik dari mereka.

Aku tertunduk memandang sobekan pakaianku. Angin berhembus membuat rambutku berterbangan, seluruh badanku terasa segar oleh hempasan angin tersebut, angin masuk dalam telinga dan seakan berbisik lembut “semuanya berpakaian robek”.


-d^^-