Kamis, 16 Juni 2011

Pesannya..

Beberapa hari ini merupakan hari hari perpisahan.
Hari selasa yang lalu hari perpisahan di unit saya unit SD..
Hari kamis ini hari perpisahan dengan seluruh unit..
Dan Hari selasa nanti bener bener perpisahan terakhir yang  terakhir… hiks..

Disekolah saya untuk tahun ajaran ini saja ada sekitar 8 guru yang tidak lagi di lokasi puri..
Wow, jumlah yang tidak sedikit.. dan setiap kali melihat perpisahan teman-teman guru yang lain yang terdahulu resign, saya selalu merasa yakin kalau nanti saya perpisahan saya tidak akan menangis, karena saya tidak sedih.. ujar saya dalam hati..

Sekarang tiba saat nya saya yang dilepas, awalnya saya masih sempat senyum-senyum kecil, tertawa kecil ke sesama guru.. tapi ternyata hal itu tidak bertahan lama.. saya ikut terharu juga.. apalagi mengingat bahwa baru tahun inilah saya merasakan adanya kebersamaan dengan rekan-rekan.. Apalagi sejak kejadian “toilet” di retreat tersebut..

Saya jadi ingat perpisahan dengan beberapa rekan hamba Tuhan di gereja saya.. dan sekarang saya jadi semakin mengerti apa perasaan mereka saat mereka harus berpisah dengan kami dan menjalani tugas pelayanan di daerah yang jau disana..

Mungkin inilah perasaan yang sama.. perasaan sedih berpisah dengan rekan-rekan bahkan dengan rekan rekan yang sudah dekat namun pilihannya berpisah..

Sepulang dari sekolah saya juga diajak bicara oleh gembala sekolah saya ibu Irene, dia memberikan saya beberapa nasehat dan kami banyak sharing tentang pergumulan sekolah kami. Terlalu banyakk.. Iya.. terlalu banyak yang harus diubah dari sekolah kami kalau sekolah kami ini mau menjadi semakin baik dihadapan Tuhan.

Satu hal yang kami makin takutkan adalah sekolah kami lupa pada firman “Ia harus semakin bertambah dan kita harus semakin berkurang”.. Jangan-jangan sekolah kami menjadi sekolah yang lama kelamaan membuat diri semakin bertambah dan Ia semakin berkurang..  Fuhh… >.<

Setelah berbicara panjang dengan ibu, ibu berkata bahwa tidak kebetulan Tuhan membuka beban itu kepada kita apalagi saya, dan ibu bilang tugas saya diakhir ini adalah mensharingkan beban tersebut ke orang yang tepat dan menjadikan itu PR buat orang yang ditinggal. Hal itu langsung saya lakukan, saya berikan tanggung jawab itu kepada ibu.

Sosok ibu Irene adalah ibu yang penuh beban pendidikan, ibu yang berani, ibu yang tegas, sangat berani untuk menyatakan Salah terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip Firman Tuhan, walaupun sebenarnya ada juga ketakutan di dalamnya. Dan ada konsekuensi untuk dibenci orang. Ia ibu guru saya saat saya penataran guru sekolah minggu. Sosok ibu yang akan jadi teladan saya. Sungguh… dia sabar dan dia punya hati yang sangat peduli dan sangat inisiatif. Dia keibuan semua anak didiknya akan merasakan kasih sayang ibu nya. Banyak sharingan pengalaman dia yang menjadi inspiratif buat saya melangkah ke depan.

Hari itu adalah hari yang sedih tapi diakhiri dengan indah. Banyak hal yang akan saya ingat selalu yang merupakan pesan beliau. 

Ibu berkata perjalanan study kedepan tidak lama dan tidak juga terlalu singkat, Untuk segala sesuatunya mulai sekarang saya harus memulainya di dalam dan hanya dengan anugrah Allah saja yang saya dapat sandarkan, sampai saya lulus nanti saya akan takjub dengan anugrah Nya itu. Ia juga berkata saya harus Jaga Hati saya, saya harus ingat bahwa terkadang lingkungan dan uang sangat mudah untuk mengaburkan kemurnian hati, visi dan panggilan. Oleh sebab itu saya harus jaga hati saya.

Pesan yang singkat itu akan terus saya pegang, saya ingat dan saya resapi. Sampai saatnya nanti saya bisa bertemu dengan ibu lagi.

-d^^-

Tidak ada komentar: