Senin, 23 Mei 2011

takut akan Allah..


 Sabtu minggu lalu..
Teman saya sempat memasang status di facebook miliknya dengan status berikut :
“Bukan apa jenis pekerjaannya yang menentukan apakah pekerjaan seseorang rohani atau sekuler, melainkan sikapnya. –A.W.Tozer-“

Setelah diingat-ingat ternyata itu status diambil dari buku KTB yang dimana besok kami akan KTB.. >.<” dan itu petanda kalau saya harus persiapan KTB.. -.-a
Alhasil saya sempatkan waktu untuk mempelajari bahan tersebut dan ayat yang diambil dari Nehemia 5 :14-19..

Betapa kagum dan bersyukurnya belajar teladan dari tokoh Nehemia..
Tuhan pilih dia dan Tuhan pakai dia untuk membangun kembali bangsanya..

Nehemia dulunya seorang juru minum raja (Neh 1: 11).. Apa sih peranan juru minum raja itu? Profesi itu sudah seperti kepercayaan raja yang paling dipercaya. Setiap kali minuman raja pasti di tester dulu sama juru minum ini kalo kalo ada racun maka juru minum yang akan dihukum terlebih dahulu. Jadi raja pasti sangat percaya sekali dengan dia.  Kalau kata caterin waktu KTB.. sudah seperti staf ahli presiden..

Nah di Nehemia 5 ini , Nehemia telah melepaskan pekerjaan juru minumnya itu dan sekarang menjadi bupati buat bangsanya. Menjadi seorang juru minum raja pastinya mendapatkan uang hasil kerjanya apalagi kerja di istana menjadi orang kepercayaan raja. Sekarang dia malah tidak mendapatkan uang yang padahal seharusnya bisa juga sih ia mendapatkan uang tapi ia tidak menggunakan kesempatan itu. Nehemia sangat berbeda dengan para pendahulunya yang mendapatkan sebanyak mungkin keuntungan dari kedudukan.

Pada zaman itu, menjadi bupati sudah sepantasnya mendapatkan upeti dan persembahan dari bawahan dan rakyat tetapi hal ini tidak dilakukan oleh Nehemia karena Nehemia tahu hal itu membebankan rakyat. Bahkan meminta bawahannya tidak mengambil dari rakyat melainkan di support oleh Nehemia sendiri, ia juga memberi makan 150 an orang-orangnya setiap hari selama dua belas tahun ketika ia diangkat menjadi Bupati. Padahal sesuai statusnya, ia berhak mendapat perlakuan khusus dari rakyat. Mereka wajib membayar upeti, apalagi Nehemia memerintah dengan penuh dedikasi. Namun, Nehemia tidak pernah mengambil jatah itu. Mengapa? Karena ia memahami bahwa "pekerjaan itu sangat menekan rakyat" (ayat 18). 

Pembangunan tembok Yerusalem menguras tenaga dan pikiran rakyat. Semakin Nehemia belajar mengerti kesusahan mereka, semakin ia tidak mau menuntut bagiannya. Kepemimpinan Nehemia adalah takut akan Tuhan (Nehemia 5:15). Nehemia tidak menyalahgunakan kekuasaan dan tidak mengambil keuntungan untuk kepentingan diri, menjauhi kecurangan, melalui jabatan dan senantiasa bertanggung jawab kepada Tuhan, karena dia takut akan Tuhan dan mencintai bangsanya.

Ketika merenungkan bagian ini saya jadi berpikir mengapa Nehemia berbuat sesuatu hal yang begitu berbeda dengan pemimpin lainnya?  Apakah Nehemia seorang yang tidak normal sehingga tidak menyukai harta? Ternyata sebuah hal yang simple yang bermakna dan berpengaruh Nehemia beritahukan kepada kita yaitu 'ia takut akan Allah' (15) dan ia mau mengidentifikasikan dirinya dengan penderitaan rakyat. Nehemia adalah contoh pemimpin mempesona, menakjubkan, jujur, dan berdedikasi tinggi.

Lantas bagaimana dengan kita? dengan negara kita?
Bukankah seringkali sikap serakah menyebabkan seorang pemimpin mendahulukan kepentingan pribadinya? Kehidupan Nehemia sebagai bupati bangsa yang sedang porak poranda menunjukkan sebuah kualitas bupati yang high quality.

Inilah yang dibutuhkan seorang pemimpin di bidang apa pun baik pemerintahan, perusahaan, gereja, lembaga pelayanan, maupun rumah tangga. Seorang pemimpin haruslah memiliki hati yang takut akan TUHAN, bukan pada manusia. Sehingga para pemimpin terutama pemimpin bangsa ini lebih memperhatikan kepentingan bangsa, kepentingan rakyatnya, bukan kepentingan pribadi.

Sebagai seorang pendidik di sekolah yang bernotabene Kristen sekalipun saya terus memohon kepada Tuhan agar para pemimpin sekolahan ini juga terus memiliki hati yang takut akan Tuhan, bukan kepada ‘pemimpin atasan’ sehingga setiap misi awalnya yang mulia terus diperjuangkan bukan memperjuangkan kepentingan pribadi individual.

Bahkan sebagai pendidik saya juga ditegur agar lebih mementingkan kepentingan anak didik saya ketimbang kepentingan saya pribadi, walaupun mungkin akan mengorbankan banyak hal-hal kenyamanan pribadi. Sebagai orang tua, kita pun harus  memberikan contoh kehidupan yang baik sebelum kita mengoreksi kesalahan anak-anak kita.

“Tetapi aku tidak berbuat demikian karena takut akan Allah.. Nehemia 5 : 15”


-d^^-


Tidak ada komentar: