Tampilkan postingan dengan label with them. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label with them. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Maret 2012

coretan isi hatinya... *imagined


Munafikk…. *Rasanya ingin berteriak kata itu sekuat-kuatnya.. tapi tidak mungkin..

Aku seorang anak kelas sekolah dasar yang biasa biasa saja..

Ada guru yang memanggilku ganteng, ada juga guru yang memanggilku lucu.

Aku tak tau kenapa mereka memanggilku seperti itu

Aku rasa aku biasa biasa saja..

Prestasi kelasku juga biasa biasa saja, tidak terlalu menonjol bagus tapi tidak terlalu jelek juga

Di dalam kelas aku juga biasa saja, biasa terkenal tukang ribut dan jalan-jalan di kelas. Aku juga biasa suka bermain dengan teman-temanku.

Suatu kali aku sempat mendengar pembicaraan guruku di dalam kelas ketika aku duduk dibarisan depan.

Mereka sedang bergosip tentang guru yang lain yang aku tak tau siapa. Tapi aku tau apa yang mereka katakan.

Mereka bilang guru tersebut tidak melakukan yang  tidak boleh ia lakukan. Itu yang aku tangkap.

Hari ini seperti biasa aku bangun pagi dan sudah ku susun semua buku-bukuku ke dalam tas sekolahku. Kotak pencil dan buku tulisku sudah kuletakkan di dalam tas rasanya.

Tapi…

Pagi itu aku datang ke sekolah seperti biasa dan sesampai di sekolah seperti biasa juga aku suka sekali bermain lomba lari dengan temanku sampai bunyi bel mengharuskan aku dan teman-teman berbaris rapi.

Setelah baris kami diminta masuk satu per satu secara rapi dan teratur sambil memberi salam dan menyapa selamat pagi bu!

Sewaktu akan membuat agenda aku meraba-raba tasku untuk mengambil kotak pensilku. Tapi ternyata ia tidak ada, aku penasaran akhirnya aku membongkar isi tasku dan tetap tidak kutemukan kotak pensilku.

Pikirku aku sudah memasukkan lantas aku diam saja dan rasanya aku ingin maju kedepan dan meminjam pensil guruku tapi aku takut.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk meminjam , ku pikir guruku adalah orang yang pengertian lagi pula ini baru pertama kalinya aku ketinggalan kotak pensil.

Ternyata tidak kusangka guruku marah besar..

Pagi-pagi benar dia sudah marah-marah..

Pelajaran satupun belum kuterima tapi dia sudah memarahi aku..

Dengan kata-katanya yang tajam itu dia memarahai aku dan aku hanya bisa diam dengan muka ke bawah.

Dia memarahai ku di depan kelas dan dilihat didengar oleh semua teman-temanku

Betapa malunya

Dia  menyuruhku duduk dan tidak memberi solusi apa-apa, satu pensil tumpul untuk menulis tidak dia berikan dengan alasan sebagai pembelajaran buat aku agar aku tidak lupa membawa lagi.

Aku hanya bisa diam seperti biasa..

Dimana teman-temanku semua sedang menulis agenda yang penting untuk dibawa esok harinya, aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Setelah semua selesai aku melihat guruku yang satu lagi. Aku tau dia pasti akan menolongku, tapi aku tau , ku lihat diwajahnya dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika main  teacherku sudah memarahi aku.

Ku lihat guru itu mengeluarkan beberapa pencil yang baru diruncingnya. Dia melihatku dan aku melihatnya.

Tapi main  guruku memanggilku dan memberikan pensil itu, kemudian mendisiplinku dengan menyuruhku menulis agenda sendiri di depan kelas dibawah papan tulis.
Seperti biasa aku pun melakukannya.

Guru  agamaku datang.. senangnya hatiku karena aku bisa mendengarkan cerita lagi.

Tapi ternyata aku masih harus menyelesaikan hukumanku tersebut dan akhirnya aku ketinggalan cerita yang sangat aku sukai itu. Cerita tentang Alkitab.

Uhh… betapa sebalnya

Sedih nya aku harus mendapat guru seperti dia. Dia munafik..

Rasanya dia manis ketika renungan pagi , dia manis ketika ada  guru  yang lain.. Dia manis di depan orang lain… 

Tetapi ternyata dia munafik, dia berkata kasar dan  tidak mendidik aku dengan benar, dia menghukum aku dengan pilih kasih. 

Aku yang baru sekali salah dia langsung menghakimi aku, sedangkan temanku yang lain yang telah salah berkali-kali tidak dia disiplin.

Dia bilang kalau disiplin hanya berlaku di waktu pelajaran guru yang bersangkutan tetapi ketika guru fak maka murid harus belajar. 

Tetapi dia tidak seperti itu terhadap aku. Dia berkata sangat manis sekali di depan guru fak. Tetapi sangat kasar di depan murid-muridnya ketika muridnya ada salah.

Dia berkata sebagai seorang guru seharusnya tidak boleh begitu, tapi dia begitu..

Aku tidak tau arti kata munafik, tapi aku tau guruku munafik..



Rabu, 15 Juni 2011

Teeriimaa Kaasiihh, Buu..

Hari ini hari terakhir.. :(

Ya hari ini hari terakhir saya bisa bersama-sama dengan mereka.. :(
Dengan anak-anak yang sangat saya kasihi, dengan segala keunikan mereka, dengan segala kenakalan mereka, dengan segala perubahan mereka yang merupakan buah doa.

Sewaktu masih di dalam kelas, Saya ingat Ibu Yo, Ibu Wali Kelas saya pernah bertanya kepada saya seperti ini , 
”Yan, kamu sedih gak kalo kamu resign dari sekolah ini?” dengan logat medok yogya nya..
Saya terdiam sejenak, 
“ Yah, sedihlah, bu , Tapi yang paling buat saya sedih adalah saya tidak bisa lagi melihat anak-anak saya ini duduk di kelas II” dengan mata hampir berkaca-kaca.

Rasanya ada suatu kehilangan walapun saya sadar mereka bukan anak-anak kandung saya, tapi saya juga sadar mereka adalah anak didik saya. Anak yang sangat saya kasihi.

Kebiasaan jelek saya, saya suka sekali mengintip melalui kaca jendela sekolah kami yang besar-besar itu sekedar melihat tingkah laku belajar anak didik saya yang terdahulu sekarang sudah berada di tingkat yang lebih tinggi. Sedih rasanya ketika sekarang tidak lagi bisa melihat mereka duduk belajar di bangku kelas II.

Namun perasaan sedih rasanya sudah terbayar dengan pengalaman yang Tuhan beri yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup saya.

Ya, hari ini hari terakhir saya bertemu dengan anak-anak saya, karena besok mereka akan memasuki masa liburan kenaikan kelas yang cukup panjang.

Seperti biasa, sebelum pulang kami akan menyanyikan lagu “Seblum Kita Pulang” , dilanjutkan dengan Doa Pulang dan diakhiri dengan “Beri Salam” , teriak ketua kelas kemudian anak-anak akan berkata,
  “ Selamat Siang, Bu. Terima Kasih, Bu. Tuhan Yesus Memberkati”

Hari itu benar-benar jadi hari yang special buat saya, ntah kenapa kata-kata salam anak-anak yang biasa mereka ucapkan tersebut di hari itu menjadi kata Salam yang sungguh Special.

Ketika mereka berkata “Terima Kasih Bu. Tuhan Yesus Memberkati” hari itu. Kata-kata Itu terdengar sungguh-sungguh seperti keluar dari hati ketulusan mereka. Dari hati mereka berkata Terima Kasih Bu.

Terima kasih Bu hari itu sungguh menjadi kata Terima kasih Bu yang terspesial, termanis, terpolos, dan tersungguh-sungguh yang pernah saya dengar selama 2 thn mengajar di sekolah ini. Dan Disaat itu juga saya  semakin diyakinkan oleh Tuhan seakan akan  Ia berbisik lembut dengan saya, “Dian, inilah mereka”.

Tuhan, saya sungguh bersyukur bisa bersama-sama mereka 2 tahun ini, bisa belajar, bermain bahkan mendidik mereka. Terlebih sungguh bersyukur, Ya Tuhan, saya semakin banyak belajar dari sikap dan ketulusan hati anak-anak.

Ya, hari ini adalah hari terakhir saya dengan anak-anak
tapi hari ini juga adalah hari special saya dengan anak-anak.
Rasa sedih itu tetap ada 
namun rasa sedih itu diberikan teman oleh Tuhan yaitu Rasa Syukur.

Terima Kasih, Tuhan.... ^.^
(*diucapkan dengan intonasi dan cara anak-anak didik dian...)



-d^^-

Kamis, 28 April 2011

Sedih..

Waktu itu saya bersama miss sisca dipercayakan menjadi mc di kebaktian paskah anak-anak.. lagu yang kami pilih sebelum masuk firman Tuhan yaitu Yesus sahabatku. Siapa yang tidak tau lagu ini, lagu yang setiap kali menyanyikannya membuat saya kembali bersyukur kepada Tuhan yang mau menjadi sahabat dan Tuhan saya.

Sebelum lagu ini dinyanyikan miss sisca mengusulkan agar ada anak kecil yang menyanyikannya lebih dahulu sembari anak-anak diminta untuk berdoa menyiapkan hati masuk perenungan firman Tuhan..

Cari di cari…
Hal itu ditugaskan pada saya untuk mencari anaknya.. padahal 2 hari lagi paskah.. >.< Tapi pikir saya, nanti saya bisa minta anak kelas saya saja untuk hal itu..

Cari di cari ternyata sebagian besar anak kelas saya belum pernah dengar lagu ini. Ada yang pernah dengar tapi lupa. Akhirnya terpilihlah antara Farrel atau Angel yang nanti akan diminta nyanyi..
Ternyata suara Farrel lebih pas setiap nada-nadanya dan tidak ada yang false. Beda dengan Angel yang banyak beberapa nada yang tidak pas.. wajar saja karena dia benar-benar belum pernah dengar lagu ini sebelumnya.

Farrel adalah anak laki-laki yang sering kami panggil dengan sebutan abang. Panggilan itu panggilan  rumahnya. Ia mempunya seorang adik laki-laki yang sangat mirip dengan dia. Suara serak-serak nya merupakan cirri khas suara dia. Agak kecil suaranya dan sempet ngambek gak mau nyanyi di depan karena malu.. Setelah dirayu-rayu dan dibujuk-bujuk diberi penjelasan dan motivasi akhirnya dia mau untuk nyanyi dan belajar melayani tuhan dan tidak perlu malu untuk itu..

Waktu Gladi bersih, saya tidak menyangka hal ini akan terjadi…

Awalnya yang latihan gladi bersih adalah para pengisi acaranya, ada paduan suara dan juga tari-tarian..
Si Ibu pembimbing padus heran dan melihat anak yang saya bawa dengan muka bertanya-tanya.. dan dia akhirnya bertanya juga ngapain anak itu disini, terus kami jelaskan bahwa Farrel akan nyanyi sebelum masuk firman Tuhan dan itu bagian dari ibadah. Si ibu Padus heran dan bertanya lagi emang anak ini bisa nyanyi? Kenapa bisa milih dia? Karena saya merasa bertanggung jawab, maka saya menjelaskan perihal itu, saya bilang anak ini akan menyanyikan lagu Yesus sahabatku dan setelah didengar ternyata nada-nadanya pas, tidak ada nada yang false atau salah hanya saja suaranya agak serak-serak dan masih terlalu kecil karena malu.

Sekarang saatnya kami yang latihan gladi bersih dan sampailah masuk pada lagu Firman Tuhan.. Dengan muka bertanya-tanya penasaran, dia melihat anak itu nyanyi karena memang suara anak itu lumayan kecil. Akhirnya sebelum anakku selesai nyanyi, Si ibu padus langsung melihat ku dan berkata kepadaku.. “Kok suara seperti itu bisa dipilih untuk nyanyi solo, suaranya buruk! kenapa milih dia sih” dengan nada dan mimik wajah mencibir.. 

:(
Jujur waktu Si ibu padus berbicara seperti itu, saya langsung down dan sedih. Kesedihan saya membuat saya seperti hopeless dan speechless. Saya sangat sedih mendengar kata-kata Si ibu. Akhirnya saya bilang kepada partner mc saya kalau saya down mendengar Si ibu padus berkata seperti itu. 
Bersyukur masih ada orang yang mau melihat dari sisi yang berbeda, miss sisca menanggapi dengan sesuatu yang membuat saya yakin kembali memilih anak ini. Ia berkata yang kita butuhkan bukanlah suara yang bagus, tapi sebuah suara ketulusan..

Setelah mencoba mengajari Farrel lagi bagaimana bernyanyi dengan PD dan dengan suara lebih keras. Akhirnya saya dan Farrel kembali ke sekolah. Farrel pulang dan saya kembali ke kantor. Duduk di bangku meja saya dan saya merenung.

Saya begitu sedih mendengar cibiran Si ibu padus, padahal kalau dipikir-pikir siapa sih Farrel. Farrel tidak ada hubungan darah atau saudara dengan saya, anak saya secara darah pun bukan. Tapi saya bisa sebegitu down-nya, saya sebegitu sedihnya mendengar ‘penghinaan’ Si ibu padus kepada anak saya itu padahal dia bukan anak kandung saya. Saya sadari bahwa walaupun mereka bukan anak kandung saya, mereka tidak memiliki hubungan darah dengan saya, Tapi Tetap mereka adalah anak saya. Mereka bersama-sama dengan saya 1 tahun, mereka adalah anak saya. Saya sayang dengan mereka. Saya mengasihi mereka bahkan ketika mereka disakiti oleh orang lain, rasa sakit itu juga terasa oleh saya. Walaupun mungkin mereka belum begitu mengerti apa itu ‘sakit’.

Saya bukan orang yang ngotot untuk memaksakan kehendak, saya tidak memaksakan agar anak saya itu bisa nyanyi solo. Itu bukan tujuan saya. Tapi yang saya harapakan adanya pengertian sedikit saja dari mereka untuk melihat sisi lain dari anak-anak. Walaupun dalam hal ini suara mereka tidak sebagus suara anak-anak padus binaan Si ibu Padus, tetapi lihatlah dan dengarlah anak ini punya talenta yang bisa dikembangkan bukan dikubur.

Kesedihan saya dan Down nya saya, saya sadari kalau itu menyatakan rasa sayang saya kepada mereka. Walaupun saya bukan ibu kandung mereka tapi mereka tetap anak-anak saya. Sedih rasanya ketika harus mengahadapi hari-hari bersama mereka tinggal beberapa bulan lagi.

Terima kasih Tuhan, setidak melalui kejadian ini saya semakin mengerti apa itu artinya punya hati seperti Engaku yang mengasihi anak-anak. Dan yang meminta kami untuk punya hati seperti anak-anak. Dan saya semakin belajar mengerti bagaimana sedihnya hati Bapa ketika melihat Anak tunggalNya dihina, dicaci , dan disiksa. Engkau rela, Engkau merelakan Anak Tunggal-Mu itu sebagai ganti dosa dan pelanggaran kami. Terima kasih Bapa.



"Janganlah menghalang-halangi anak-anak datang kepada-Ku, sebab orang-orang seperti merekalah yang empunya Kerajaan Surga" 
Matius 19:13-15






-d^^-

Minggu, 20 Februari 2011

Thanks God for them..

Setiap sebulan sekali di sekolah saya, pasti membuat laporan pengamatan untuk anak-anak kelasnya.. 
Ketika mengerjakan laporan tersebut terkadang hati terasa berat karena seakan itu rutinitas, tak ada kata-kata lagi yang dapat dirangkai untuk menjelaskan sikap anak ini setiap bulan, sulit rasanya menemukan perubahan dalam jangka waktu 1 bulan.. Oh no.. Dalam 30 hari mana ada perubahan yang significant yang terlihat, pikir saya..

Tetapi setelah menjalaninya,  ada satu pelajaran penting yang saya pelajari selam 2 tahun ini.
Setiap kali harus menuliskan dan menceritakan setiap detail sikap anak-anak selama belajar di sekolah, saya menemukan bahwa anak-anak adalah anugrah dan terlebih lagi pertumbuhan dan perubahan mereka juga adalah anugrah Allah. Allah mengasihi mereka.

Ketika saya sedang  menuliskan laporan pengamatan anak yang ke-35. Tersentak saya kembali membayangkan semua anak-anak saya dari absen pertama dan saya menjadi terharu serta malu.
Mereka anak-anak yang dikasihi Allah. Kami hanyalah alat yang Allah pakai untuk menoreh warna kehidupan di setiap diri anak-anak. Dan Allah sajalah yang memberi pertumbuhan dan bahkan pertobatan diri.

Kembali membayangkan dan flashback ke awal ketika melihat mereka anak-anak TK yang sekarang telah berada di kelas 1 SD. Yang awalnya baca saja masih terbata-bata, tulis huruf sambung tidak bisa bahkan tulisannya jelek sekali. Dari yang tidak bisa menghitung dan mendengarkan dikte dengan baik bahkan tidak bisa diam dalam kelas, ada yang suka ribut suka jalan-jalan suka gangguin temannya, suka egois dan suka memukul. Sekarang saya melihat pertumbuhan perkembangan bahkan perubahan hidup mereka ketika sedang menuliskan laporan pengamatan.

Mereka sekarang mulai bisa membaca lancar, bahkan tulisan huruf sambung mereka menjadi sangat indah dipandang mata. Mencongak mereka mengalami peningkatan. Kelakuan dan sikap mereka telah mulai banyak berubah. Mereka mulai sadar akan hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, walaupun terkadang masih ada jatuh bangunnya.

Kejadian-kejadin besar yang tak akan terlupakan bersama mereka, mendoakan mereka sampai berlinang air mata untuk memohon Kristus merubah hidup mereka  dan menjadikan mereka anak-anak yang semakin takut akan Allah. Itu semua mebuat saya belajar banyak di sini.

Dan itu semua, mengajak  saya sungguh-sungguh bersyukur kepada Allah karena Allah melukis sesuatu yang indah sampai saat ini kepada anak-anak kami. Allah mengerjakan sesuai dengan waktuNya yang tidak pernah terlambat maupun terlalu cepat. Doa demi doa, air mata demi air mata yang tercurah ternyata Kristus ganti dengan buah yang dapat dilihat melalui job desk saya.

Saya sadar… Iya itu bukan karena kami, tapi karena Allah mengasihi mereka..
Thanks God for them..

Luv all of you, my children..

-d^^-

Senin, 22 November 2010

Mutisme Selektif

Ketika sedang baca-baca artikel dari teman mengenai mutisme selektif, saya jadi teringat dengan blog saya mengenai cerita anakku.

Ya kurasa anak ini mengalami hal yang sama kali ya, beberapa belakangan terakhir ini terlalu banyak kejadian-kejadian yang terjadi, yang membuat diri saya semakin bergumul  tentang anak ini. Saya ingat ketika record mencongak anak ini sangat rendah, saya berinisiatif untuk membantu memberi tambahan kemampuan membilang agar dia dapat membilang dengan tepat. Alhasil dia hanya mau bicara kalo kondisi ruangan hanya tinggal saya dan dia, tetapi kalo ada orang yang lain di ruangan tersebut dia mulai mendiam dan membisu lagi. Dan sangat sulit untuk meminta dia membilang dengan bersuara.. >.<”

Beberapa hari yang lalu merupakan hari-hari ulangan untuk anak kelas 1. Tidak seperti biasanya anak perempuan ini, bertingkah tidak seperti biasanya. Saya tahu benar ini karena dia sebelumnya tidak seperti ini. Tiba-tiba dia ngambek tidak mau sekolah dan tanpa menangis tapi hanya aksinya yang membisu dan membatu diam tidak mau masuk kelas. Asumsi guru-guru, anak ini takut ulangan. Dan ternyata benar setelah dengan sangat susah payah untuk dapat mencari tahu alasannya dia dan berkomunikasi dengan dia dengan berbagai cara (*susah bener! Bener2 susah karena dia tidak mau bersuara) akhirnya dengan berbagai cara diketahui kalau dia tidak belajar dan takut untuk ulangan. Membujuk dan memotivasinya pun ternyata sulit, karena anak ini tidak mau berkomunikasi dengan saya..  *Zzzzz…. Bikin geregatan.. Tuhan give me more.. more.. patient…
  
Beberapa guru menyarankan agar anak ini diajak bicara personal, ketika diajak bicara personal. Awal-awal bicara sangat sulit untuk dapat berkomunikasi dengan dia, walaupun kami sudah kurang lebih sudah 5 bulan bersama-sama di dalam satu kelas, tetapi setelah beberapa lama dikondisikan berdua maka komunikasi akan lancar kalo dia ingin berbicara dengan saya, atau kita hanya menggunakan bahasa isyarat saja (menganggukan kepala ato menggelengkan kepala). So far, mesti lebih banyak baca dan pendekatan dengan dia.. >.<

Berikut hasil dari rangkuman saya mengenai mustime selektif..  
(dari berbagai sumber) :

Mutisme Selektif adalah salah satu gangguan kecemasan pada anak, gangguan ini dicirikan dengan anak yang tidak dapat berbicara bila berada dalam lingkungan sosial padahal di tempat biasa anak dapat berbicara dengan sangat faseh/lancar. memilih tidak berbicara pada situasi – situasi tertentu ataupun orang – orang tertentu.

Dalam keadaan ini anak tidak bicara karena tidak mau bicara. Mereka dapat bicara pada saat sendiri, bersama kawan yang disukainya dan kadang-kadang dengan orang tuanya, tetapi tidak bicara di sekolah, di depan umum atau dengan orang asing. Lebih sering ditemukan pada anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki. Sering disertai gangguan penyesuaian diri, sangat tergantung orang tua, negativistik, pemalu, menarik diri. Keadaan ini dapat menetap beberapa bulan sampai beberapa tahun. 


Mutisme selektif biasanya terlihat pada anak berumur 3-5 tahun, yang tidak mau bicara pada keadaan tertentu, misalnya di sekolah atau bila ada orang tertentu. Atau kadang-kadang ia hanya mau bicara pada orang tertentu, biasanya anak yang lebih tua. Keadaan ini lebih banyak dihubungkan dengan kelainan yang disebut sebagai neurosis atau gangguan motivasi. Keadaan ini juga ditemukan pada anak dengan gangguan komunikasi sentral dengan intelegensi yang normal atau sedikit rendah.

Anak Mutisme selektif mengalami kesulitan untuk merespon atau memulai komunikasi dalam situasi sosial karena rasa takut dan cemas untuk melakukannya. Rasa takut atau cemas ini diekspresikan dalam bentuk yang berbeda-beda. Pada sebagian anak, ada yang menjadi sama sekali membisu atau tidak berbicara pada siapapun di situasi sosial, sedangkan yang lain mau berbicara hanya pada orang-orang tertentu atau berbicara dengan suara yang sangat pelan atau berbisik.

Perilaku Anak Mutisme selektif  menunjukkan tampilan sebagai anak yang sangat pemalu, ketakutan akan dipermalukan dalam situasi sosial, pencemas, terisolasi secara sosial, cenderung temper tantrum, berprilaku oppositional,moody, agresif, keras. Diluar berkomunikasi dengan verbalisasi standar, anak dengan gangguan ini mungkin akan berkomunikasi dengan gestures, mengangguk atau menggelengkan kepala, mendorong atau menarik, atau pada beberapa kasus dengan kata-kata tunggal, pendek dan tanpa suara.

Prevalensi terjadinya gangguan ini cukup kecil, berkisar antara 1-2 % dan data ini pun didapatkan dari hasil penelitian di luar negeri. Mutisme selektif umumnya lebih banyak terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki dengan rasio 3 : 1.
Mutisme selektif juga dikatakan sangat dekat hubungannya dengan gangguan kecemasan dan sebagai bentuk varian dari social phobia.

Dampak negatif dari gangguan mutisme selektif antara lain :
1. Mutisme selektif membuat kesempatan anak untuk berinteraksi menjadi terbatas, keterlambatan dalam   perkembangan kemampuan bahasa dan mengurangi keterlibatan dalam aktivitas sehari-hari di sekolah dengan murid yang lain .
2. mempengaruhi prestasi akademis, karena guru mengalami kesulitan untuk menilai kemampuan dan pemahaman terhadap materi karena anak mutisme selektif yang tidak mau berbicara.
3. membuat gangguan kecemasan menjadi semakin memburuk
4. menjadi depresi dan memunculkan gangguan kecemasan lainnya
5. penghargaan diri dan percaya diri rendah
6. Menolak sekolah (school refusal), prestasi belajar rendah dan kemungkinan berhenti sekolah
7. menjadi underachievement secara akademis dan di tempat kerja


Beberapa ciri yang menunjukkan seseorang mungkin mengalami Mutisme Elektif :
1. Kesulitan untuk berbicara di situasi sosial tertentu, misal sekolah.
2. Gangguan berkomunikasi ini bisa terjadi lebih dari 1 bulan (tidak hanya cuma 1 hari atau beberapa jam)
3. Ekspresi wajah kosong saat gelisah
4. Kurang tersenyum ketika cemas
5. Merasa canggung jika gelisah
6. Kesulitan kontak mata saat berinteraksi
7. Membutuhkan waktu lebih lama dari orang lain saat merespon pertanyaan
8. Tidak nyaman pada kondisi bising, gaduh, atau ramai orang
9. Over sensitif

Mengabaikan anak yang mengalami hal seperti ini bisa menciptakan perilaku yang mendarah daging yang pada akhirnya si anak akan semakin kesulitan untuk berekspresi secara verbal. 

Jika tidak diobati hal ini akan mengganggu akademis si anak, kehidupan sosial dan perkembangan emosional seperti : 
1. membentuk rasa cemas 
2. penarikan diri dari lingkungan sosial 
3. rasa rendah diri 
4. penolakan dan menurunnya hasil akademis atau prestasi baik di sekolah ataupun dunia kerja (kelak)
5. obat-obatan 
6. kriminalisme 
7. yang terburuk - bahkan bunuh diri

Fokus “penyembuhkan” pada seseorang yang mengalami ini adalah menghilangkan kecemasan, meningkatkan percaya diri terutama di lingkungan sosial. 
Mungkin membuat mereka nyaman tanpa berharap banyak mereka untuk berbicara justru akan menimbulkan kenyamanan tersendiri mereka untuk berkomunikasi secara wajar dan santai.

Saran ketika menghadapi anak atau seseorang seperti ini adalah :
1. Tetap berusaha berkomunikasi walaupun tidak mendapat respon
2. Melibatkan seseorang yang mutisme elektif ke dalam interaksi bersama orang lain dalam group kecil
3. Bertanyalah dengan pertanyaan yang bervariasi, sebaiknya tidak terlalu sering menatapnya dengan tatapan langsung dan tajam
4. Gunakan bahasa yang paling membuat ia nyaman - perhatian kata-kata yang biasa digunakannya
5. Menerima respon non verbal lain yang ia keluarkan - bahasa tubuh
6. Hargai upayanya walau masih minim - jauh dari harapan kita


Adapun penerapan terapi perilaku pada gangguan mutisme selektif dengan menggunakan pendekatan desensitisasi, pembiasaan dan positive reinforcement. Tipe desensitisasi yang diterapkan menggunakan fading therapy. Fading therapy adalah tipe desensitisasi dengan membuat rentetan kejadian-kejadian yang dimulai dari suatu situasi yang nyaman untuk anak, kemudian memperkenalkan secara bertahap situasi-situasi yang lebih sulit. Tipe pembiasaan dengan cara membiasakan anak untuk bersosialisasi dengan teman sebaya dan membiasakan anak bertemu dengan orang yang baru. Membiasakan anak bersosialisasi dengan teman sebaya dilakukan dalam 4 kali pertemuan dengan waktu 2 jam setiap kali pertemuan_ Sedangkan membiasakan anak bertemu dengan orang barn dilakukan selama 4 minggu, setiap minggu 3 kali pertemuan dalam waktu 2 jam setiap kali pertemuan. Sedangkan tipe reinforcement menggunakan pendekatan play therapy. Setiap respon yang sesuai dengan harapan diberikan positive reinforcement, tetapi punishment tidak diberikan pada respon yang tidak sesuai harapan. Positive reinforcement diberikan untuk semua bentuk komunikasi, termasuk ekspresi wajah dan gesture dan secara berangsur-angsur hanya berbisik dan berbicara normal. Bentuk positive reinforcement berupa pujian dan hadiah. 

Torey Hayden, salah satu referensi pengarang novel kisah nyata yang menceritakan kisahnya dengan anak-anak Mutism Selektif sekaligus saya belajar dari dia bagaimana mengahadapi anak-anak berkebutuhan seperti ini.

.... Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. 1 Sam 16 :7


-d^^-








Senin, 11 Oktober 2010

Cerita anakku..

Cerita anakku..
Anak ini anak yang sangat leled, lemod, prilakunya menunjukkan seakan hidup tak mau mati pun tak segan, sungguh tak ada semangat untuk sekolah >.<… benar aneh abiss dan sangat menguji kesabaran sekali anak ini. Dan tiap hari saya berdoa agar saya ditambah kesabaran dengan anak perempuan ini.. uhh @.@

2 hari yang lalu anak ini tidak hadir ke sekolah tanpa pemberitahuan sama sekali, karena anak-anak maka daku kira biasalah paling sakit demam. Yasudah saya pun tak terlalu mengkhawatirkan dia. Keesokannya dia juga tidak masuk lagi, yaah.. kita pikir ini pasti orang tuanya mumpung ini hari jumat, jadi pasti sekalian ajah ga masuk sekalian, toh besok sabtu libur ini..

Sampailah hari senin dia masuk dan mamanya menghampiri saya dan berkata,
“Bu, maap anak saya hari kamis tidak masuk karena kami mengalami kecelakaan mobil, kaca depan mobil saya pecah.” 
 “Ibu dan anak2 tidak apa2 kan, bu?” Dengan kaget saya menjawab
             “Tidak apa-apa bu, untung anak2 duduk dibelakang, pecahan kacanya juga tidak terlalu sampai mengenai saya,bu.”, kata si ibu.
“O begitu ya bu, Puji Tuhan ya bu”, kata saya sambil senyum.

Proses Belajar mengajar dikelas hari itu berlangsung seperti biasa dan hari itu entah angin apa, anak ini berhasil mengerjakan agendanya dan tugas-tuganya tepat waktu, tidak lelet dan berhasil mengerjakan soal math tersebut. Kami pun tersenyum pada dia.
Jam sekolah pun usai dan sekarang tinggal dia yang belum dijemput sama ortunya, maka tinggallah dia bersama saya di dalam kelas waktu itu. Karena dia belum mengerjakan PR Menulisnya, maka saya menyuruh dia untuk menunggu waktu sambil mengerjakan PR Menulis saja, supaya PR ini tidak menumpuk hingga minggu depan, dan dia pun menyanggupinya.

Baiklah, sementara dia masih menulis dan saya masih harus merapikan kelas. Saya bertanya kepadanya dimana kecelakaan itu terjadi? Pertama-tama dia diam saja, kemudian saya melihat dia, ternyata dia sedang menulis.
 “Ashley,kamu kecelakaan dimana?” kemudian saya tanya lagi,
 “Tidak, tidak terjadi kecelakaan bu.” kemudian dia menjawab
Saya pun tidak terlalu mempedulikan jawaban dia saat itu, karena masih penasaran saya bertanya sekali lagi dengan dia,
“Kamis yang lalu kamu ga masuk karena kecelakaan kan, as? Kata mama kamu, kamu kecelakaan? Dimana kecelakaannya?”.
Dia pun menjawab “tidak, tidak ada kecelakaan bu. Hari itu saya dikunci di kamar tapi berhasil keluar dan kami langsung berangkat sekolah. Tapi tiba-tiba papi datang dan memecahkan kaca mobil.”
“HAH” wajah kaget, shock sekaligus bertanya-tanya dan kepo bercampur semua di kepala saya. Langsung saya berhenti dari segala aktivitas dan langsung menghampiri dirinya, duduk disebelahnya.
 “Ceritakan kejadiannya, As pada ibu. Apa yang terjadi hari kamis yang lalu?” kataku sambil senyum tapi penasaran.

Setelah mendengar segala cerita yang dia ceritakan, apa yang terjadi di rumah, bagaimana papanya memperlakukan mamanya, bagaimana kondisi rumah dia dan orangtuanya. Seraya itu juga hati saya langsung menghakimi saya dan saya merasa bersalah selama ini karena saya melihat dari luar saja bukan dari dalam. Ini masalahnya! dia seperti ini karena input yang terjadi di keluarganya, karena kondisi keluarga yang membuat dia menjadi seperti itu. Papa yang suka memukul mama dan disaksikan oleh anak perempuan mereka.

Tuhan seandainya saya tau kondisi ini jau-jau hari, Tuhan. Ternyata saya yang terlalu lelet untuk bisa mengayomi dia, dan dia butuh itu. Tapi dibalik itu semua, saya tetap bersyukur ya Tuhan, karena di dalam anugrahMu ini bukan waktu yang lelet untuk boleh mengetahui kondisi yang sebenarnya, bagaimana dia dan keluarga, sebelum semua berlanjut. Tuhan ajari saya untuk melihat tidak memakai "kacamata"  ini, buat mataku dapat melihat lebih dalam lagi dan lagi. Seperti diriMu yang tidak melihat rupa tapi melihat hati, ajarkan saya untuk dapat melihat setiap hati anak-anakku yang hancur yang Tuhan sengaja pertemukan kami di dalam sebuah ruangan yang terbatas setiap hari  di sekolahan ini.
Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.1 Sam 16 :7
Ajari saya melihat bukan seperti manusia tapi seperti Engkau, ya Allah..


Kamis, 07 Oktober 2010

apa itu arti ketulusan...

Pengalamanku besama mereka

Ini tahun kedua bagiku untuk menjalani yang namanya lintas profesi dari gelar sarjanaku. Yup, one year sudah terlewati dan aku bersyukur untuk itu walaupun banyak pergumulan" yang terjadi..

Tahun ini aku masih ditempatkan di grade kelas yang sama yaitu kelas satu SD. Ini merupakan salah satu jawaban doaku yang aku pinta ke Tuhan. Aku masih ingin banyak belajar dari kelas satu ini. Anak-anak kelas satu anak-anak yang cukup uniqeu bagiku. Masa peralihan mereka dari taman bermain alias TK menuju sekolah dasar atau SD, merupakan tantangan buat aku untuk dapat masuk dalam dunia mereka dan belajar mengasihi mereka dengan sikap dan tingkah laku TK mereka.

Sering kali setiap hari setelah selesai mengajar aku harus kehabisan suara karena suara yang cukup ekstra terpakai ketika di kelas. Sering kali pula di dalam kelas ketika mereka seakan menguji kesabaranku dengan tingkah mereka yang ku anggap tak bisa ku tolerir lagi, aku marah dengan mereka dan menunjukkan sikap tegasku pada mereka, namun seringkali pula aku merasa menyesal dan bersalah ketika aku merenungkan kembali satu hari yang ku jalani. Aku merasa bersalah karena aku merasa kurang sabar dengan mereka. Seringkali pula banyak hal yang unpredectiable terjadi dan itu kuanggap penghiburan tersendiri bagiku dari Tuhanku. 

Hari ini 30 September 2010. Ketika di kelas yang sangat crowed dan berisik akan anak-anak yang menghampiriku satu per satu untuk bertanya jawaban math terus menerus dan seharusnya itu sudah dijelaskan berkali-kali oleh guru yang mengajar. Akhirnya aku pun meminta mereka untuk tidak sering maju dan harus berpikir sendiri. Ku minta mereka mengerjakan soal itu sendiri dulu dengan suara yang berintonasi agak tinggi, pfuuh..  >.<
Belum lagi ditambahnya dengan satu anak yang sangat super duper lambat.  Almost everyday..  Aishh …. Anak yang menguji kesabaran banget.. banget…  >.<”  dan akhirnya emosi ku kepancing juga untuk ‘galak’ dengan dia dan meminta dia untuk mengerjakan dengan cepat, dan TIDAK MELAMUN !!

Fuhh, one day passed..  Sampailah pada jam bible reflection, biasa pada jam ini aku membiasakan anak-anak untuk menulis pengalaman pribadi mereka bersama Tuhan, maupun pengalaman pribadi yang lainnya.
Yuhuu…  dan ini lah waktu yang biasanya aku tunggu-tunggu… Aku suka membaca tulisan mereka. Tulisan yang polos dan terkadang bisa membuatku tertawa geli membaca celotehan dan gambar mereka.

Seorang anak perempuan  yang tidak terkenal di kelasku maju dan memberikan hasil tulisannya, karena tulisannya masih banyak yang salah ejaan dan tidak rapi, aku membetulkan tulisan anak perempuan ini. Sambil membetulkan tulisannya aku membaca dan terharu, dia menulis :
“hari ini aku senang bisa belajar di sekolah, bisa bertemu dengan teman-teman dan ibu guru. Aku sayang pada teman-temanku dan ibu guruku. Aku sayang mereka”. Sambil tersenyum aku kembalikan lagi buku agenda itu pada dia.

Kemudian datang pula salah satu anak laki-laki yang tidak terlalu terkenal juga di kelas, tapi kita cukup akrab setelah pertemuan kami yang tidak disengaja di salah satu mall di Jakarta.Dia datang menghampiriku dan memberikan hasil karyanya, tadinya ku pikir dia akan menulis pengalaman dia mengenai les nya atau mengenai pelajaran di sekolah (karena itu yang biasa dia tulis) tapi ternyata dia menunjukkan sebuah gambar, dan aku tersenyum melihat gambar itu.


Dia menggambar diriku dan dirinya dengan sebuah tulisan dibawahnya “I love u idu dian” aku langsung memanggilnya dan mengoreksinya “siapa itu idu dian?” Walaupun aku tau yang dia maksud adalah aku haha.. *GeeR nya wkwkwkwk =)).. dengan tersipu malu dia langsung segera mengambil bukunya, kembali ke tempat duduk,  menghapusnya serta kembali lagi kepadaku dengan senyum dan menunjukkan yang benar. Akupun langsung tersenyum kepadanya dan berkata “terima kasih Kenneth, ibu juga sayang kamu” ^.^

Seketika itu juga perasaan malu serta sedih menghampiri diriku. Pertanyaan penghakiman mampir dikepalaku. "Tidakkah aku malu melihat ketidaksabaraanku terhadap mereka, walaupun terkadang emosi bergejolak melihat tingkah mereka yang semakin menjadi-jadi  Tapi Tuhan tetap memberikan penghiburan dari mereka juga.

Ini merupakan suatu hal simple yang dibuatnya dan dibuat oleh Nya juga dalam cerita hidupku. Tapi karya anak itu telah memberikan pengaruh yang besar dalam diriku dan membuat ku kembali berpikir apa itu arti ketulusan...


"Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah." Markus 10 : 14