Tampilkan postingan dengan label konseling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konseling. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juli 2011

"perempuan berdosa"


Tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.  Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.  Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian.  Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"  Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai  Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.  Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa , hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. " Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.  Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"  Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi  mulai dari sekarang." Yoh 8 : 1-11

Pasti setiap kita pernah mendengar cerita Firman Tuhan diatas, ntah di sekolah minggu waktu kita kecil atau mungkin khotbah di gereja waktu ibadah.
Ada dua pertanyaan yang terlintas di pikiran saya. Pertama, pernahkah kita bertemu sendiri dengan “perempuan berdosa” tersebut entah itu di tempat tinggal kita, ntah di tempat kerja kita, atau mungkin di tempat persekutuan kita dimana menurut pikiran kita di tempat itu seharusnya orang-orang yang tidak lagi berbuat dosa. Kedua, pertanyaannya apa yang akan anda lakukan jika “perempuan berdosa “ itu ada di dekat anda? Bisa saja ia adalah orang yang anda kenal, mungkin dia adalah sahabat anda atau keluarga anda. Apa yang akan anda lakukann??
Kita mungkin akan sangat mudah jatuh dalam hal menghakimi. Apalagi kalau saya boleh tambahkan dan jikalau kita sedikit berimajinasi, bayangkanlah jika “perempuan berdosa” tersebut setelah kejadian diatas dia malah berbalik marah-marah, berkata tidak sopan dan kemudian mencaci semua orang yang tadi akan menghujani dia dengan batu. Bagaimana perasaan kita? Masihkah  kita tetap menaruh batu kita ke tanah atau kita dengan geramnya akan mengambil batu itu kemudian melemparkannya sebagai pelampiasan emosi kita?
Mungkin Kata-kata yang akan keluar yaitu : “ Tidak tau diri “.
Saya belajar banyak melalui kejadian yang akhir-akhir ini baru terjadi. Ada Seorang yang kami tidak pernah duga sebelumnya melakukan sebuah pelanggaran hukum taurat yang cukup mengagetkan di mana hal itu terjadi di sebuah lingkungan yang berlabel kudus.
Semua tentang kronologis cerita , apa dan bagaimana hal itu terjadi secepat kilat bagai menggunakan kecepatan cahaya, tersebar dari mulut ke mulut bercerita tentang aib perempuan ini. Sekarang label perempuan ini adalah “perempuan berdosa”.
Jujur saya terkejut dan sangat terkejut mendengar berita tersebut dimana saya mendapatkan berita tersebut secara langsung dari pihak yang berkepentingan. Suasana seakan-akan ditambah parah dengan tulisan-tulisan si “perempuan berdosa” di jejaring social dan bbm nya yang sangat frontal dan jujur menakutkan. Hal tersebut menambahlah sisi negative untuk “perempuan berdosa” ini.
Saya tidak tau alasan terdalam mengapa dia bisa berbuat begitu bahkan diperparah dengan beberapa statusnya tersebut yang menurut saya kurang bijak. Dalam analisa saya mungkin perempuan berdosa ini sedang mencari pembelaan diri melalui tulisan dan koment dari teman teman jejaring social dia, atau mungkin inilah tempat pelampiasan keputus asaan dan kekecewaannya, atau mungkin dengan alasan yang lain yang tak saya ketahui.
Namun terlepas dari sisi sudut pandang si “perempuan berdosa” tersebut , hal itu sempat kami bahas ketika saya lagi bersama dengan seorang ibu.
Dan dengan lembut ibu itu hanya bertanya,
“Sudahkah kamu mendatangi dia secara pribadi dan berempati dengan dia serta merangkulnya kembali?!..”
Pertamyaan yang sederhana itu membuat saya merenung dan sekaligus malu. Selama ini saya hanya diam.. ya diam.. diam yang berarti tidak memusuhi dia dan juga tidak datang secara pribadi merangkul dia. Hanya diam di dalam comfort zone saya..
Sedangkan yang dia butuhkan adalah konfirmasi dia diterima kembali dan dikuatkan.
Saya jadi teringat kata-kata dia untuk pertama kali di depan umum karena sejak kejadian tersebut dia menarik diri untuk tidak berada di lingkungan yang sama dengan kami lagi. Dari setiap kata-katanya yang keluar adalah sebuah kata-kata tajam yang menunjukkan dia butuh arti nyata diampuni.
“Kami bukannya tidak mau mengampuni dia, kami mengampuni dia, tapi dia nya sendiri yang menjauhkan diri dari kami, bahkan mencaci maki kami di belakang kami”, ujar salah seorang temannya.
Saya bersyukur saya diizinkan Tuhan beada mengalami kondisi tidak enak ini dan ditegurNya melalui kejadian ini. 
Terlebih saya bersyukur Tuhan pernah berfirman melalui ayat diatas tadi. Ia tidak hanya mengeluarkan kata-kata saktinya yaitu "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa , hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. " tapi Ia juga melakukan actionnya Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"  Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi  mulai dari sekarang."
Selain pengampunan dosa, “perempuan berdosa” itu mengalami penerimaan kembali, penguatan kembali dan sebuah nasehat yang berharga dari seorang Pribadi yang peduli dengan dia.
Di dalam perenungan saya, ke’diam’an saya bukannya sama saja seperti orang-orang Farisi itu. Hanya saja bedanya saya memegang batu tapi tidak mau digunakan untuk melempar dia. Tapi bukankah pointnya saya memegang batu untuk siap menghakimi dia.
Betapa mahalnya sebuah pengampunan dan penerimaan. Lebih mudah untuk mendapatkan pengampunan Bapa dari pada pengampunan dari anak sulung.
Terlalu mudah kita jatuh dalam hal ini dan sangat rentan, karena kita merasa diri kita bukanlah orang berdosa lagi, sehingga kita sangat mudah untuk menjatuhkan dan meremehkan orang yang berbuat dosa, Padahal kita lupa dahulu kita juga sama seperti perempuan ini, status kita sama, yaitu sama-sama perempuan-perempuan berdosa juga bukan? Dan kalaupun sekarang kita telah dibenarkan dan ditebus itu semata hanya karena Kasih Karunia, bukan usaha kita.
Walaupun..... walaupun imajinasi saya yang diawal tadi terjadi, saya rasa Tuhan akan tetap memberi pengampunanNya dan akan tetap berkata "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi  mulai dari sekarang."
Woww.. Betapa besar arti pengampunan tersebut.
* Saat itu saya sedih dan terharu. Dan saya tidak mau jadi seperti mereka, saya mau jadi seperti engkau ya Tuhan.. *
Tuhan, Tolonglah saya untuk tidak memegang batu, melainkan mengulurkan tangan untuk dapat memegang tangannya kembali. Walaupun saya tidak pernah tau apa yang akan terjadi berikutnya, mungkin saya akan ditusuk dari belakang, tapi saya sungguh – sungguh bersyukur saya punya teladan yang real seperti engkau yang menyatakan betapa berharganya arti sebuah pengampunan dan penerimaan kembali.

 -d^^-

Kamis, 26 Mei 2011

Loneliness (Kesepian)......... (1)


Ketika sedang menemani seorang teman untuk membeli sesuatu hal di toko buku Kristen. Saya menemukan buku ini. Pastoral Konseling Mungkin kedengaran agak “seram” tapi ternyata isi buku yang ditulis oleh Pak Yakub Susabda ini sedikit banyak membantu saya mengerti banyak hal.. dan sangat menarik sekali buat saya
Muncul ide iseng saya untuk merangkum beberapa bab dari buku ini yang berkaitan dengan hal-hal yang pasti akan terjadi dan sering kita temui di sekeliling kita..  :D
part 1... *hehehe
Loneliness (Kesepian)
Siapa yang tidak tau lagu ini  “Lonely.. I’m so lonely.. I have nobody….”  
Atau siapa yang tidak tau istilah ini “ Aku merasa kesepian walaupun berada diantara keramaian”
Yaa.. Loneliness atau kesepian seperti wabah yang pasti akan dapat dirasakan oleh setiap umat didunia ini. Apapun kedudukan mereka apapun status social mereka dan berapapun usia mereka. Bahkan isu dan berita bunuh diri bukankah sering kita dengar. Menurut survey presentase angka bunuh diri di dunia telah mencapai 100.000 orang per tahun (Wikipedia). Angka yang tidak kecil jika dirata-ratakan per hari.
Loneliness seringkali menjadi masalah yang serius, oleh karena loneliness tidak pernah menjadi masalah yang independent. Loneliness dapat menggejala dalam tingkah laku isolation, poor self-esteem, ketidakmampuan dalam berkomunikasi dan membangun hubungan yang erat dengan sesame, rendah diri, putus asa, seringkali mendorong orang yang bersangkutan untuk melakukan tindakan tindakan merugikan yang lebih lanjut, seperti keinginan bunuh diri, kecanduan obat terlarang dan lain-lain.
Apa itu Loneliness ?
Loneliness adalah pengalaman yang menyakitkan, dimana orang yang bersangkutan merasakan kekosongan jiwa sehingga tidak dapat lagi menikmati komunikasinya dengan orang lain. Ia bisa begitu sedih, putus asa, gelisah, khawatir dan ingin sekali dibutuhkan dan disayangi. Akibatnya seorang bisa tetap merasa begitu lonely meskipun di tengah orang-orang yang mengasihi dirinya. Bahkan merasa ditolak dan ditinggalkan.
Ada tiga macam Loneliness menurut Ahli jiwa Craig Ellison:
1.       Emotional – loneliness   : yang terjadi oleh karena orang yang bersangkutan mengalami kegagalan atau tidak mampu membina hubungan intim dan berarti dengan sesamanya. Akan dialami oleh orang-orang yang kekurangan teman atau mereka yang tidak mampu membina persekutuan.
2.       Social loneliness               : yaitu perasaan kesepian dan kekosongan jiwa yang timbul oleh karena merasa dirinya tidak berharga. Biasanya dialami oleh mereka yang mempunyai poor self image.
3.       Existential loneliness      : yaitu kesepian yang dialami oleh mereka yang kehilangan pegangan hidupnya, kehilangan hubungan dengan Allah sehingga hidupnya tanpa arah.
Apa yang Alkitab katakan tentang loneliness?
Alkitab tidak mengatakan bahwa loneliness itu dosa. Alkitab dengan jelas menyaksikan betapa orang-orang percaya seperti Musa, Yakub, Ayub, Nehemia, Elia, Yeremia, dll pernah mengalami apa yang disebut loneliness. Meskipun demikian Alkitab juga memberikan isyarat betapa loneliness menjadi bagian integral dari kehidupan manusia setelah manusia jatuh dalam dosa dan kehilangan persekutuan yang harmonis dengan Allah dan sesamanya (Kej 3: 8) Pulihnya hubungan dengan Allah dan sesama manusia menjadi dasar utama penyelesaian masalah loneliness ini.
Apakah Penyebab dari Loneliness?
1.       Masalah Sosial
·         Loneliness akan dialami oleh banyak orang yang oleh karena warna kehidupan zaman ini dimana perubahan-perubahan social begitu cepat telah menceraikan orang dengan sesamanya bahkan dari orang yang dikasihinya.
·         Masalah social yang menceraikan manusia bisa timbul oleh karena teknologi, mobility, urbanisasi, televise.
2.       Masalah pertumbuhan dan pembentukan pribadi
·         Ada kebutuhan dasar pertumbuhan dan pembentukan pribadi setiap orang yang harus dipenuhi atau kalo tidak ia akan mengalami loneliness dalam hidupnya (menurut Craig Ellison) yaitu Attachment (ikatan kasih), Acceptance (perasaan diterima), Acquiring Social Skill (memiliki kemampuan membangun hubungan social)
3.       Masalah psikis
·         Kecenderungan psikis dalam diri seseorang dangat menentukan muncul tidaknya perasaan loneliness dalam dirinya, misalnya : Low self – esteem (penilaian yang salah dan penghargaan yang kurang terhadap diri sendiri), Self – defeating Attitude ( sikap hidup yang merugikan diri sendiri)
4.       Masalah kondisi dan situasi kehidupan
Bagaimana menolong mengatasi Loneliness?
1.       Menyadari dan mengakui bahwa dia lonely.
2.       Mengenali penyebabnya.
3.       Menerima realita yang memang tidak dapat diubah lagi.
4.       Mengubah apa yang memang dapat diubah.
5.       Mengingatkan dan memperkenalkan akan sumber penghiburan, pengharapan dan kekuatan manusia yaitu Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus 
Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah Loneliness?
1.       Menciptakan kehidupan gereja yang mampu menghidupakn meaning of life dari setiap anggota jemaatnya.
2.       Menciptakan persekutuan Kristen yang sejati saling mengasihi, menasehati dan menghibur.
3.       Memberikan dorongan dan modal untuk membangun keluarga Kristen yang harmonis dimana anak-anak dilahirkan dalam lingkungang orang orang yang saling mengasihi dan hangat.
4.       Memberikan kebutuhan dan makanan rohani yang sehat.
(Sumber : Pastoral Konseling -PDt. Dr. Yakub Susabda-)

-d^^-

Sabtu, 22 Januari 2011

Tergantung bagaimana relasimu dengan Tuhan..

Gimana ya caranya agar anak-anak kita menjadi taat sama perintah Tuhan dan taat juga sama orang tua?
Gimana ya cara agar anak-anak kita semakin hari semakin takut sama Tuhan?
Gimana ya cara agar anak-anak kita semakin hari semakin cinta sama Tuhan?
Gimana ya cara agar anak-anak kita semakin hari semakin kenal Tuhan penciptaNya?
Gimana ya cara agar anak-anak kita sadar kalo dirinya itu punya nature dosa dan dia diselamatkan karena anugrah Allah semata?

Banyak pertanyaan lagi pasti akan muncul dalam sebuah keluarga.. Pertanyaan-pertanyaan mengenai keluarga mengenai anak, mengenai cara pengasuhan maupun pertanyaan mengenai relasi keduanya..

Bukankah tidak ada sekolahan khusus untuk mempelajari jawaban-jawaban pertanyaan tadi? Trus harus belajar darimana kita?..  (kita ?? kayak saya udah rumah tangga aje… haha =.=a ..  Pasangan aja blm.. haha )

Di salah satu seminar orang tua yang saya pernah ikuti… ( Di sekolahan tempat saya mengajar selalu mengadakan seminar orang tua di akhir semester pelajaran… Baguss kan!!.. hehe.. Sebagai bekal jadi orang tua suatu saat nanti.. Hahaha.. =)) *ngakak… tulis blog kali ini ) di seminar itu saya banyak belajar dan dapat banyak pengetahuan pembinaan yang baik mengenai keluarga. Kalo saya aja yang single ini dapat sesuatu pembelajaran yang baik dan buaguss banget!! Saya rasa apalagi orang tua yang datang saat itu. Pasti dapat buanyaak sekali untuk keluarga mereka..

Gimana sih cara nya ini…. Gimana sih cara nya itu…
Pertanyaan ini timbul karena kita ingin mengetahui cara-cara teknis, tips and trik jitu untuk mejawab pertanyaan-pertanyaan tersebut!...

Sebenarnya banyak yang Tuhan bukakan mengenai hubungan orang tua dan anak di alkitab. Salah satunya di Efesus 6 : 1-4
Hai anak-anak, taatilah  orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.  Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:  supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.  Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu , tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

Dan masih ada lagi baik di PL maupun PB..
Tapi satu hal yang cukup buat saya tertarik adalah ayat ini ;
Takut akan TUHAN  adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat  dan didikan.  Amsal 1:7

Iya...  takut akan Tuhan adalah awal dari pengetahuan, bahkan dari segala pengetahuan tak terkecuali pengetahuan menjadi parents.. hwhwhw…

Bagaimana mungkin anak akan taat pada Allah , 
       Kalo orang tua nya saja tidak taat terlebih dahulu..
Bagaimana mungkin anak akan mengasihi Allah, 
       Kalo orang tua nya saja tidak mengasihi Allah terlebih dulu..
Bagaimana mungkin anak akan mengenal Tuhan hari tiap hari, 
       Kalo orang tua nya saja tidak mengenal dan dekat Tuhan hari tiap          hari..
Bagaimana mungkin anak akan dapat takut akan Tuhan, 
       Kalo orang tua nya saja tidak takut akan Tuhan terlebih dahulu..

Hubungan Pribadi Orang tua dengan Tuhan-nya sangat dibutuhkan dalam sebuah keluarga. Peran Orang tua sangat bergantung dengan kebergantungannya dengan Kristus as Head of the family.  Sustainer. Comforter. Strong tower of their marriage..

Anak-anak makhluk yang paling cepat belajar. Ia belajar langsung dari orang tua. Model apa yang kita inginkan agar anak-anak dapat pelajari kita? Tergantung bagaimana relasimu dengan Tuhan..  bagaimana engkau belajar berserah pada Tuhan ketika engkau mengahadapi masalah. Bagaimana engkau belajar beriman ketika engkau tidak mengerti jalan rencana Tuhan..

Ia yang menciptakan anak-anak kita, Ia juga tau bagaimana cara yang terbaik untuk mendidik anak-anak kita demi masa depan anak-anak.

Begitu pentingnya hubungan, keintiman orang tua dengan Pencipta mereka yang juga sekaligus Pencipta anak-anak mereka, sehingga di dalam doa, air mata dan juga teladan hidup mereka menjadi jawaban bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam keluarga mereka.


Takut akan TUHAN  adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat  dan didikan.  Amsal 1:7


-d^^-

Senin, 22 November 2010

Mutisme Selektif

Ketika sedang baca-baca artikel dari teman mengenai mutisme selektif, saya jadi teringat dengan blog saya mengenai cerita anakku.

Ya kurasa anak ini mengalami hal yang sama kali ya, beberapa belakangan terakhir ini terlalu banyak kejadian-kejadian yang terjadi, yang membuat diri saya semakin bergumul  tentang anak ini. Saya ingat ketika record mencongak anak ini sangat rendah, saya berinisiatif untuk membantu memberi tambahan kemampuan membilang agar dia dapat membilang dengan tepat. Alhasil dia hanya mau bicara kalo kondisi ruangan hanya tinggal saya dan dia, tetapi kalo ada orang yang lain di ruangan tersebut dia mulai mendiam dan membisu lagi. Dan sangat sulit untuk meminta dia membilang dengan bersuara.. >.<”

Beberapa hari yang lalu merupakan hari-hari ulangan untuk anak kelas 1. Tidak seperti biasanya anak perempuan ini, bertingkah tidak seperti biasanya. Saya tahu benar ini karena dia sebelumnya tidak seperti ini. Tiba-tiba dia ngambek tidak mau sekolah dan tanpa menangis tapi hanya aksinya yang membisu dan membatu diam tidak mau masuk kelas. Asumsi guru-guru, anak ini takut ulangan. Dan ternyata benar setelah dengan sangat susah payah untuk dapat mencari tahu alasannya dia dan berkomunikasi dengan dia dengan berbagai cara (*susah bener! Bener2 susah karena dia tidak mau bersuara) akhirnya dengan berbagai cara diketahui kalau dia tidak belajar dan takut untuk ulangan. Membujuk dan memotivasinya pun ternyata sulit, karena anak ini tidak mau berkomunikasi dengan saya..  *Zzzzz…. Bikin geregatan.. Tuhan give me more.. more.. patient…
  
Beberapa guru menyarankan agar anak ini diajak bicara personal, ketika diajak bicara personal. Awal-awal bicara sangat sulit untuk dapat berkomunikasi dengan dia, walaupun kami sudah kurang lebih sudah 5 bulan bersama-sama di dalam satu kelas, tetapi setelah beberapa lama dikondisikan berdua maka komunikasi akan lancar kalo dia ingin berbicara dengan saya, atau kita hanya menggunakan bahasa isyarat saja (menganggukan kepala ato menggelengkan kepala). So far, mesti lebih banyak baca dan pendekatan dengan dia.. >.<

Berikut hasil dari rangkuman saya mengenai mustime selektif..  
(dari berbagai sumber) :

Mutisme Selektif adalah salah satu gangguan kecemasan pada anak, gangguan ini dicirikan dengan anak yang tidak dapat berbicara bila berada dalam lingkungan sosial padahal di tempat biasa anak dapat berbicara dengan sangat faseh/lancar. memilih tidak berbicara pada situasi – situasi tertentu ataupun orang – orang tertentu.

Dalam keadaan ini anak tidak bicara karena tidak mau bicara. Mereka dapat bicara pada saat sendiri, bersama kawan yang disukainya dan kadang-kadang dengan orang tuanya, tetapi tidak bicara di sekolah, di depan umum atau dengan orang asing. Lebih sering ditemukan pada anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki. Sering disertai gangguan penyesuaian diri, sangat tergantung orang tua, negativistik, pemalu, menarik diri. Keadaan ini dapat menetap beberapa bulan sampai beberapa tahun. 


Mutisme selektif biasanya terlihat pada anak berumur 3-5 tahun, yang tidak mau bicara pada keadaan tertentu, misalnya di sekolah atau bila ada orang tertentu. Atau kadang-kadang ia hanya mau bicara pada orang tertentu, biasanya anak yang lebih tua. Keadaan ini lebih banyak dihubungkan dengan kelainan yang disebut sebagai neurosis atau gangguan motivasi. Keadaan ini juga ditemukan pada anak dengan gangguan komunikasi sentral dengan intelegensi yang normal atau sedikit rendah.

Anak Mutisme selektif mengalami kesulitan untuk merespon atau memulai komunikasi dalam situasi sosial karena rasa takut dan cemas untuk melakukannya. Rasa takut atau cemas ini diekspresikan dalam bentuk yang berbeda-beda. Pada sebagian anak, ada yang menjadi sama sekali membisu atau tidak berbicara pada siapapun di situasi sosial, sedangkan yang lain mau berbicara hanya pada orang-orang tertentu atau berbicara dengan suara yang sangat pelan atau berbisik.

Perilaku Anak Mutisme selektif  menunjukkan tampilan sebagai anak yang sangat pemalu, ketakutan akan dipermalukan dalam situasi sosial, pencemas, terisolasi secara sosial, cenderung temper tantrum, berprilaku oppositional,moody, agresif, keras. Diluar berkomunikasi dengan verbalisasi standar, anak dengan gangguan ini mungkin akan berkomunikasi dengan gestures, mengangguk atau menggelengkan kepala, mendorong atau menarik, atau pada beberapa kasus dengan kata-kata tunggal, pendek dan tanpa suara.

Prevalensi terjadinya gangguan ini cukup kecil, berkisar antara 1-2 % dan data ini pun didapatkan dari hasil penelitian di luar negeri. Mutisme selektif umumnya lebih banyak terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki dengan rasio 3 : 1.
Mutisme selektif juga dikatakan sangat dekat hubungannya dengan gangguan kecemasan dan sebagai bentuk varian dari social phobia.

Dampak negatif dari gangguan mutisme selektif antara lain :
1. Mutisme selektif membuat kesempatan anak untuk berinteraksi menjadi terbatas, keterlambatan dalam   perkembangan kemampuan bahasa dan mengurangi keterlibatan dalam aktivitas sehari-hari di sekolah dengan murid yang lain .
2. mempengaruhi prestasi akademis, karena guru mengalami kesulitan untuk menilai kemampuan dan pemahaman terhadap materi karena anak mutisme selektif yang tidak mau berbicara.
3. membuat gangguan kecemasan menjadi semakin memburuk
4. menjadi depresi dan memunculkan gangguan kecemasan lainnya
5. penghargaan diri dan percaya diri rendah
6. Menolak sekolah (school refusal), prestasi belajar rendah dan kemungkinan berhenti sekolah
7. menjadi underachievement secara akademis dan di tempat kerja


Beberapa ciri yang menunjukkan seseorang mungkin mengalami Mutisme Elektif :
1. Kesulitan untuk berbicara di situasi sosial tertentu, misal sekolah.
2. Gangguan berkomunikasi ini bisa terjadi lebih dari 1 bulan (tidak hanya cuma 1 hari atau beberapa jam)
3. Ekspresi wajah kosong saat gelisah
4. Kurang tersenyum ketika cemas
5. Merasa canggung jika gelisah
6. Kesulitan kontak mata saat berinteraksi
7. Membutuhkan waktu lebih lama dari orang lain saat merespon pertanyaan
8. Tidak nyaman pada kondisi bising, gaduh, atau ramai orang
9. Over sensitif

Mengabaikan anak yang mengalami hal seperti ini bisa menciptakan perilaku yang mendarah daging yang pada akhirnya si anak akan semakin kesulitan untuk berekspresi secara verbal. 

Jika tidak diobati hal ini akan mengganggu akademis si anak, kehidupan sosial dan perkembangan emosional seperti : 
1. membentuk rasa cemas 
2. penarikan diri dari lingkungan sosial 
3. rasa rendah diri 
4. penolakan dan menurunnya hasil akademis atau prestasi baik di sekolah ataupun dunia kerja (kelak)
5. obat-obatan 
6. kriminalisme 
7. yang terburuk - bahkan bunuh diri

Fokus “penyembuhkan” pada seseorang yang mengalami ini adalah menghilangkan kecemasan, meningkatkan percaya diri terutama di lingkungan sosial. 
Mungkin membuat mereka nyaman tanpa berharap banyak mereka untuk berbicara justru akan menimbulkan kenyamanan tersendiri mereka untuk berkomunikasi secara wajar dan santai.

Saran ketika menghadapi anak atau seseorang seperti ini adalah :
1. Tetap berusaha berkomunikasi walaupun tidak mendapat respon
2. Melibatkan seseorang yang mutisme elektif ke dalam interaksi bersama orang lain dalam group kecil
3. Bertanyalah dengan pertanyaan yang bervariasi, sebaiknya tidak terlalu sering menatapnya dengan tatapan langsung dan tajam
4. Gunakan bahasa yang paling membuat ia nyaman - perhatian kata-kata yang biasa digunakannya
5. Menerima respon non verbal lain yang ia keluarkan - bahasa tubuh
6. Hargai upayanya walau masih minim - jauh dari harapan kita


Adapun penerapan terapi perilaku pada gangguan mutisme selektif dengan menggunakan pendekatan desensitisasi, pembiasaan dan positive reinforcement. Tipe desensitisasi yang diterapkan menggunakan fading therapy. Fading therapy adalah tipe desensitisasi dengan membuat rentetan kejadian-kejadian yang dimulai dari suatu situasi yang nyaman untuk anak, kemudian memperkenalkan secara bertahap situasi-situasi yang lebih sulit. Tipe pembiasaan dengan cara membiasakan anak untuk bersosialisasi dengan teman sebaya dan membiasakan anak bertemu dengan orang yang baru. Membiasakan anak bersosialisasi dengan teman sebaya dilakukan dalam 4 kali pertemuan dengan waktu 2 jam setiap kali pertemuan_ Sedangkan membiasakan anak bertemu dengan orang barn dilakukan selama 4 minggu, setiap minggu 3 kali pertemuan dalam waktu 2 jam setiap kali pertemuan. Sedangkan tipe reinforcement menggunakan pendekatan play therapy. Setiap respon yang sesuai dengan harapan diberikan positive reinforcement, tetapi punishment tidak diberikan pada respon yang tidak sesuai harapan. Positive reinforcement diberikan untuk semua bentuk komunikasi, termasuk ekspresi wajah dan gesture dan secara berangsur-angsur hanya berbisik dan berbicara normal. Bentuk positive reinforcement berupa pujian dan hadiah. 

Torey Hayden, salah satu referensi pengarang novel kisah nyata yang menceritakan kisahnya dengan anak-anak Mutism Selektif sekaligus saya belajar dari dia bagaimana mengahadapi anak-anak berkebutuhan seperti ini.

.... Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. 1 Sam 16 :7


-d^^-