Selasa, 05 Juli 2011

"perempuan berdosa"


Tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.  Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.  Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian.  Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"  Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai  Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.  Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa , hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. " Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.  Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"  Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi  mulai dari sekarang." Yoh 8 : 1-11

Pasti setiap kita pernah mendengar cerita Firman Tuhan diatas, ntah di sekolah minggu waktu kita kecil atau mungkin khotbah di gereja waktu ibadah.
Ada dua pertanyaan yang terlintas di pikiran saya. Pertama, pernahkah kita bertemu sendiri dengan “perempuan berdosa” tersebut entah itu di tempat tinggal kita, ntah di tempat kerja kita, atau mungkin di tempat persekutuan kita dimana menurut pikiran kita di tempat itu seharusnya orang-orang yang tidak lagi berbuat dosa. Kedua, pertanyaannya apa yang akan anda lakukan jika “perempuan berdosa “ itu ada di dekat anda? Bisa saja ia adalah orang yang anda kenal, mungkin dia adalah sahabat anda atau keluarga anda. Apa yang akan anda lakukann??
Kita mungkin akan sangat mudah jatuh dalam hal menghakimi. Apalagi kalau saya boleh tambahkan dan jikalau kita sedikit berimajinasi, bayangkanlah jika “perempuan berdosa” tersebut setelah kejadian diatas dia malah berbalik marah-marah, berkata tidak sopan dan kemudian mencaci semua orang yang tadi akan menghujani dia dengan batu. Bagaimana perasaan kita? Masihkah  kita tetap menaruh batu kita ke tanah atau kita dengan geramnya akan mengambil batu itu kemudian melemparkannya sebagai pelampiasan emosi kita?
Mungkin Kata-kata yang akan keluar yaitu : “ Tidak tau diri “.
Saya belajar banyak melalui kejadian yang akhir-akhir ini baru terjadi. Ada Seorang yang kami tidak pernah duga sebelumnya melakukan sebuah pelanggaran hukum taurat yang cukup mengagetkan di mana hal itu terjadi di sebuah lingkungan yang berlabel kudus.
Semua tentang kronologis cerita , apa dan bagaimana hal itu terjadi secepat kilat bagai menggunakan kecepatan cahaya, tersebar dari mulut ke mulut bercerita tentang aib perempuan ini. Sekarang label perempuan ini adalah “perempuan berdosa”.
Jujur saya terkejut dan sangat terkejut mendengar berita tersebut dimana saya mendapatkan berita tersebut secara langsung dari pihak yang berkepentingan. Suasana seakan-akan ditambah parah dengan tulisan-tulisan si “perempuan berdosa” di jejaring social dan bbm nya yang sangat frontal dan jujur menakutkan. Hal tersebut menambahlah sisi negative untuk “perempuan berdosa” ini.
Saya tidak tau alasan terdalam mengapa dia bisa berbuat begitu bahkan diperparah dengan beberapa statusnya tersebut yang menurut saya kurang bijak. Dalam analisa saya mungkin perempuan berdosa ini sedang mencari pembelaan diri melalui tulisan dan koment dari teman teman jejaring social dia, atau mungkin inilah tempat pelampiasan keputus asaan dan kekecewaannya, atau mungkin dengan alasan yang lain yang tak saya ketahui.
Namun terlepas dari sisi sudut pandang si “perempuan berdosa” tersebut , hal itu sempat kami bahas ketika saya lagi bersama dengan seorang ibu.
Dan dengan lembut ibu itu hanya bertanya,
“Sudahkah kamu mendatangi dia secara pribadi dan berempati dengan dia serta merangkulnya kembali?!..”
Pertamyaan yang sederhana itu membuat saya merenung dan sekaligus malu. Selama ini saya hanya diam.. ya diam.. diam yang berarti tidak memusuhi dia dan juga tidak datang secara pribadi merangkul dia. Hanya diam di dalam comfort zone saya..
Sedangkan yang dia butuhkan adalah konfirmasi dia diterima kembali dan dikuatkan.
Saya jadi teringat kata-kata dia untuk pertama kali di depan umum karena sejak kejadian tersebut dia menarik diri untuk tidak berada di lingkungan yang sama dengan kami lagi. Dari setiap kata-katanya yang keluar adalah sebuah kata-kata tajam yang menunjukkan dia butuh arti nyata diampuni.
“Kami bukannya tidak mau mengampuni dia, kami mengampuni dia, tapi dia nya sendiri yang menjauhkan diri dari kami, bahkan mencaci maki kami di belakang kami”, ujar salah seorang temannya.
Saya bersyukur saya diizinkan Tuhan beada mengalami kondisi tidak enak ini dan ditegurNya melalui kejadian ini. 
Terlebih saya bersyukur Tuhan pernah berfirman melalui ayat diatas tadi. Ia tidak hanya mengeluarkan kata-kata saktinya yaitu "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa , hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. " tapi Ia juga melakukan actionnya Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"  Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi  mulai dari sekarang."
Selain pengampunan dosa, “perempuan berdosa” itu mengalami penerimaan kembali, penguatan kembali dan sebuah nasehat yang berharga dari seorang Pribadi yang peduli dengan dia.
Di dalam perenungan saya, ke’diam’an saya bukannya sama saja seperti orang-orang Farisi itu. Hanya saja bedanya saya memegang batu tapi tidak mau digunakan untuk melempar dia. Tapi bukankah pointnya saya memegang batu untuk siap menghakimi dia.
Betapa mahalnya sebuah pengampunan dan penerimaan. Lebih mudah untuk mendapatkan pengampunan Bapa dari pada pengampunan dari anak sulung.
Terlalu mudah kita jatuh dalam hal ini dan sangat rentan, karena kita merasa diri kita bukanlah orang berdosa lagi, sehingga kita sangat mudah untuk menjatuhkan dan meremehkan orang yang berbuat dosa, Padahal kita lupa dahulu kita juga sama seperti perempuan ini, status kita sama, yaitu sama-sama perempuan-perempuan berdosa juga bukan? Dan kalaupun sekarang kita telah dibenarkan dan ditebus itu semata hanya karena Kasih Karunia, bukan usaha kita.
Walaupun..... walaupun imajinasi saya yang diawal tadi terjadi, saya rasa Tuhan akan tetap memberi pengampunanNya dan akan tetap berkata "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi  mulai dari sekarang."
Woww.. Betapa besar arti pengampunan tersebut.
* Saat itu saya sedih dan terharu. Dan saya tidak mau jadi seperti mereka, saya mau jadi seperti engkau ya Tuhan.. *
Tuhan, Tolonglah saya untuk tidak memegang batu, melainkan mengulurkan tangan untuk dapat memegang tangannya kembali. Walaupun saya tidak pernah tau apa yang akan terjadi berikutnya, mungkin saya akan ditusuk dari belakang, tapi saya sungguh – sungguh bersyukur saya punya teladan yang real seperti engkau yang menyatakan betapa berharganya arti sebuah pengampunan dan penerimaan kembali.

 -d^^-

sama tapi sangat berbeda

Pernahkah anda merasakan berada di sebuah tempat yang sama dengan suatu kegiatan yang sama tapi mengalami suatu perasaan yang berbeda  luar biasa?
Saya baru mengalami hal tersebut ntahlah apa yang telah terjadi..
Saya berada pada suatu gedung yang sama dengan lagu-lagu yang kurang lebih sama untuk dinyanyikan bersama, dengan jumlah keramaian orang yang hadir juga sama, dengan tujuan yang juga seharusnya sama yaitu memuji  Dia.
Tapi alhasil terjadi suatu perbedaan yang sangat luar biasa.
Jujur saya lebih menikmati ibadah yang kedua yang baru-baru saja ini daripada yang pertama. Bukan karena mood saya saat itu  yang lagi bagus. Saya sadar untuk hadir di ibadah yang kedua ini saya dan beberapa teman perlu berkeringat dan bersusah untuk berebut  naik  transjakarta yang berdesak-desakan, harus  pindah dari satu halte ke halte yang lain.
Hal ini sangat berbeda dengan perjalanan ke ibadah yang pertama , saya tinggal menunggu disuatu tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat kos saya, kemudian datanglah kendaraan yang tidak akan membuat keluar keringat saya, saya tinggal duduk diam nan manis maka sampailah saya di gedung tersebut dengan nyaman dan ontime
Tetapi saya lebih bisa menikmati apa yang saya pujikan dan apa yang saya dengar dari awal hingga akhir hanya saya dapatkan di kondisi ibadah yang kedua.
Sesampai di kostan, saya lantas berpikir dan merenung apa yang terjadi dan kenapa saya bisa menikmati yang ini tadi daripada yang kemarin itu.
Dalam perenungan saya. Saya mendapati bahwa benarlah jika suatu ibadah persekutuan disiapkan dengan sungguh-sungguh dalam doa (bukan sekedar  ‘doa’) maka itu akan sangat mempengaruhi jemaat yang hadir.Saya sangat menikmati pujian-pujian yang dibawakan dalam liturgi untuk dinyanyikan bersama, saya juga sangat menikmati doa bersama untuk bangsa.
Saya tidak berkata bahwa kondisi ibadah yang pertama tidak disiapkan sungguh-sungguh. Tapi saya sangat merasakan perjuangan teman-teman dalam mempersiapkan ibadah yang kedua ini, daripada ibadah yang pertama. Dari ibadah yang kedua ini, saya mendapati orang-orang yang sungguh-sungguh rindu untuk mencari Dia dan mengenal Dia.
Aneh dan sungguh aneh.. padahal keduanya sama-sama berbau rohani berada di gedung ibadah yang sama dan memuji Allah yang sama tapi terdapat sebuah perbedaan yang sangat besar.
"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah  mereka , tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu..." 2 Tim 3:5


-d^^-

Kamis, 16 Juni 2011

Mazmur 23

Mazmur Daud.

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku.
Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,
aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku;
gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku;
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku;
dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Pesannya..

Beberapa hari ini merupakan hari hari perpisahan.
Hari selasa yang lalu hari perpisahan di unit saya unit SD..
Hari kamis ini hari perpisahan dengan seluruh unit..
Dan Hari selasa nanti bener bener perpisahan terakhir yang  terakhir… hiks..

Disekolah saya untuk tahun ajaran ini saja ada sekitar 8 guru yang tidak lagi di lokasi puri..
Wow, jumlah yang tidak sedikit.. dan setiap kali melihat perpisahan teman-teman guru yang lain yang terdahulu resign, saya selalu merasa yakin kalau nanti saya perpisahan saya tidak akan menangis, karena saya tidak sedih.. ujar saya dalam hati..

Sekarang tiba saat nya saya yang dilepas, awalnya saya masih sempat senyum-senyum kecil, tertawa kecil ke sesama guru.. tapi ternyata hal itu tidak bertahan lama.. saya ikut terharu juga.. apalagi mengingat bahwa baru tahun inilah saya merasakan adanya kebersamaan dengan rekan-rekan.. Apalagi sejak kejadian “toilet” di retreat tersebut..

Saya jadi ingat perpisahan dengan beberapa rekan hamba Tuhan di gereja saya.. dan sekarang saya jadi semakin mengerti apa perasaan mereka saat mereka harus berpisah dengan kami dan menjalani tugas pelayanan di daerah yang jau disana..

Mungkin inilah perasaan yang sama.. perasaan sedih berpisah dengan rekan-rekan bahkan dengan rekan rekan yang sudah dekat namun pilihannya berpisah..

Sepulang dari sekolah saya juga diajak bicara oleh gembala sekolah saya ibu Irene, dia memberikan saya beberapa nasehat dan kami banyak sharing tentang pergumulan sekolah kami. Terlalu banyakk.. Iya.. terlalu banyak yang harus diubah dari sekolah kami kalau sekolah kami ini mau menjadi semakin baik dihadapan Tuhan.

Satu hal yang kami makin takutkan adalah sekolah kami lupa pada firman “Ia harus semakin bertambah dan kita harus semakin berkurang”.. Jangan-jangan sekolah kami menjadi sekolah yang lama kelamaan membuat diri semakin bertambah dan Ia semakin berkurang..  Fuhh… >.<

Setelah berbicara panjang dengan ibu, ibu berkata bahwa tidak kebetulan Tuhan membuka beban itu kepada kita apalagi saya, dan ibu bilang tugas saya diakhir ini adalah mensharingkan beban tersebut ke orang yang tepat dan menjadikan itu PR buat orang yang ditinggal. Hal itu langsung saya lakukan, saya berikan tanggung jawab itu kepada ibu.

Sosok ibu Irene adalah ibu yang penuh beban pendidikan, ibu yang berani, ibu yang tegas, sangat berani untuk menyatakan Salah terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip Firman Tuhan, walaupun sebenarnya ada juga ketakutan di dalamnya. Dan ada konsekuensi untuk dibenci orang. Ia ibu guru saya saat saya penataran guru sekolah minggu. Sosok ibu yang akan jadi teladan saya. Sungguh… dia sabar dan dia punya hati yang sangat peduli dan sangat inisiatif. Dia keibuan semua anak didiknya akan merasakan kasih sayang ibu nya. Banyak sharingan pengalaman dia yang menjadi inspiratif buat saya melangkah ke depan.

Hari itu adalah hari yang sedih tapi diakhiri dengan indah. Banyak hal yang akan saya ingat selalu yang merupakan pesan beliau. 

Ibu berkata perjalanan study kedepan tidak lama dan tidak juga terlalu singkat, Untuk segala sesuatunya mulai sekarang saya harus memulainya di dalam dan hanya dengan anugrah Allah saja yang saya dapat sandarkan, sampai saya lulus nanti saya akan takjub dengan anugrah Nya itu. Ia juga berkata saya harus Jaga Hati saya, saya harus ingat bahwa terkadang lingkungan dan uang sangat mudah untuk mengaburkan kemurnian hati, visi dan panggilan. Oleh sebab itu saya harus jaga hati saya.

Pesan yang singkat itu akan terus saya pegang, saya ingat dan saya resapi. Sampai saatnya nanti saya bisa bertemu dengan ibu lagi.

-d^^-

Rabu, 15 Juni 2011

Teeriimaa Kaasiihh, Buu..

Hari ini hari terakhir.. :(

Ya hari ini hari terakhir saya bisa bersama-sama dengan mereka.. :(
Dengan anak-anak yang sangat saya kasihi, dengan segala keunikan mereka, dengan segala kenakalan mereka, dengan segala perubahan mereka yang merupakan buah doa.

Sewaktu masih di dalam kelas, Saya ingat Ibu Yo, Ibu Wali Kelas saya pernah bertanya kepada saya seperti ini , 
”Yan, kamu sedih gak kalo kamu resign dari sekolah ini?” dengan logat medok yogya nya..
Saya terdiam sejenak, 
“ Yah, sedihlah, bu , Tapi yang paling buat saya sedih adalah saya tidak bisa lagi melihat anak-anak saya ini duduk di kelas II” dengan mata hampir berkaca-kaca.

Rasanya ada suatu kehilangan walapun saya sadar mereka bukan anak-anak kandung saya, tapi saya juga sadar mereka adalah anak didik saya. Anak yang sangat saya kasihi.

Kebiasaan jelek saya, saya suka sekali mengintip melalui kaca jendela sekolah kami yang besar-besar itu sekedar melihat tingkah laku belajar anak didik saya yang terdahulu sekarang sudah berada di tingkat yang lebih tinggi. Sedih rasanya ketika sekarang tidak lagi bisa melihat mereka duduk belajar di bangku kelas II.

Namun perasaan sedih rasanya sudah terbayar dengan pengalaman yang Tuhan beri yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup saya.

Ya, hari ini hari terakhir saya bertemu dengan anak-anak saya, karena besok mereka akan memasuki masa liburan kenaikan kelas yang cukup panjang.

Seperti biasa, sebelum pulang kami akan menyanyikan lagu “Seblum Kita Pulang” , dilanjutkan dengan Doa Pulang dan diakhiri dengan “Beri Salam” , teriak ketua kelas kemudian anak-anak akan berkata,
  “ Selamat Siang, Bu. Terima Kasih, Bu. Tuhan Yesus Memberkati”

Hari itu benar-benar jadi hari yang special buat saya, ntah kenapa kata-kata salam anak-anak yang biasa mereka ucapkan tersebut di hari itu menjadi kata Salam yang sungguh Special.

Ketika mereka berkata “Terima Kasih Bu. Tuhan Yesus Memberkati” hari itu. Kata-kata Itu terdengar sungguh-sungguh seperti keluar dari hati ketulusan mereka. Dari hati mereka berkata Terima Kasih Bu.

Terima kasih Bu hari itu sungguh menjadi kata Terima kasih Bu yang terspesial, termanis, terpolos, dan tersungguh-sungguh yang pernah saya dengar selama 2 thn mengajar di sekolah ini. Dan Disaat itu juga saya  semakin diyakinkan oleh Tuhan seakan akan  Ia berbisik lembut dengan saya, “Dian, inilah mereka”.

Tuhan, saya sungguh bersyukur bisa bersama-sama mereka 2 tahun ini, bisa belajar, bermain bahkan mendidik mereka. Terlebih sungguh bersyukur, Ya Tuhan, saya semakin banyak belajar dari sikap dan ketulusan hati anak-anak.

Ya, hari ini adalah hari terakhir saya dengan anak-anak
tapi hari ini juga adalah hari special saya dengan anak-anak.
Rasa sedih itu tetap ada 
namun rasa sedih itu diberikan teman oleh Tuhan yaitu Rasa Syukur.

Terima Kasih, Tuhan.... ^.^
(*diucapkan dengan intonasi dan cara anak-anak didik dian...)



-d^^-

Grace … Grace that is greater than all my sin

Beberapa hari yang lalu saya sempat mengikuti retret yang diadakan gereja saya

Ret2 tersebut diberi nama ret2 A LIFE (Abundant Life) –transforming spirituality-

Ini retreat yang ke-3 gereja saya adakan.. dan dua retreat sebelumnya saya tidak dapat ikut.

Satu kata yang dapat saya ucapkan saat ini Thanks God.. Really Thanks God..

Bersyukur sekali bisa ikut retreat ini ditengah-tengah mungkin ini kali terakhir saya bisa ikut di retreat ini.
Betapa saya kembali menyadari bahkan mungkin lebih dari tersadarkan lagi..
How amazing His Grace.. How amazing His Cross..

Saya manusia berdosa yang tak terukur dosanya, tapi Salibnya ternyata juga tak terukur besarnya panjangnya, tingginya, dalamnya lebarnya.. tak terukur… tak terukur dalam hidup keberdosaan saya..
Hari pertama hari kedua di lalui, sampai benar benar mengalami sesi terakhir di hari kedua dan sesi pertama hari ketiga yang berlimpah air mata.. 

Semakin hari kami dibentuk semakin mengerti apa itu arti bertumbuh, apa itu arti pengalaman rohani, apa arti aktivitas agamawi, apa itu arti KASIH dan arti SALIB..

Semakin menuju closing saya semakin mengerti bahwa saya ada hanya karena anugrah, saya sekarang hanya karena anugrah dan itu tidak lebih. Saya pikir saya tidak hanya mengerti secara kognitif tapi saya semakin merasakan kebenaran dan dalamnya arti kalimat tersebut.

Bahkan selama ibadah perjamuan kudus di akhir hari. Saya semakin menemukan ketidaklayakan saya untuk datang menghampiri perjamuan kudusnya. Siapa saya sampai Ia menyatakan tanda kasihNya dan Ia mau bersekutu menjadi satu dengan saya! Siapa saya??

Hal inilah yang terus membuat saya exicting dengan iman kepercayaan saya bahwa bukan saya yang aktif. Tapi Ia Allah yang aktif inisiatif melakukannya lebih dahulu.

Saya datang dengan gentar tapi juga sukacita. Kalau pinjam istilah nya seperti pengantian perempuan yang datang menhampiri altar dengan gentar tapi juga bahagia.

Mengetahui Ia mau pakai dan mau memanggil saya, saya semakin yakin bahwa ini bukan karena saya mau tetapi karena Ia yang telah terlebih dahulu bekerja di dalam kehidupan saya. Ini semua Semata-mata  hanya anugrahNya dan Belas KasihanNya.

Tuhan terima kasih untuk salibMu  dan ingatkan aku kalau aku akan selalu membutuhkan salibMu ya Tuhan, selalu.. Selalu…

Now, new beginning..
Grace … Grace that is greater than all my sin


-d^^-

Happy birthday…

Happy birthday...

Selamat ulang tahun...

Xin nien kuai le...

Semua ungkapan diatas ungkapan menyatakan selamat hari ulang tahun..

Tahun ini saya berusia 24 tahun.. *aaghh.. uda cukup tua.. >.<
Karena sudah hampir 1/4 abad hidup saya di dunia ini.. Sepintas selagi menyantap mie sua buatan sendiri di hari ulang tahun yang katanya lambang panjang umur saya lantas berpikir apa makna ulang tahun untuk kesekian kalinya buat saya.. 

Untuk tahun ini saya memang sengaja meng-hide tanggal ulang tahun saya di salah satu jejaring social saya.. saya ingin mengetes beberapa hal untuk diri saya.. Apakah saya menanti-nantikan ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman jejaring social saya tersebut, ataukah saya akan mengharapakan mereka tahu hari ulang tahun saya dengan sendirinya.. 

Ternyata setelah sampai waktu tulisan ini diketik, saya jadi semakin berpikir.. apakah sebenarnya makna hari ulang tahun itu.. Secara tidak langsung saya memiliki hari ulang tahun yang sebenarnya berbeda dengan akte keliharan saya *orang kelurahannya salah tulis tanggal lahir saya.. >.<"

Jadi sedari kecil ulang tahun saya dirayakan oleh keluarga di hari yang berbeda dengan akte kelahiran saya. tentunya di hari yang sesunguhnya seharusnya..  Dan di hari tersebut juga biasanya sampai saya besar saya gunakan untuk waktu merenung dan hanya beberapa orang terdekat saya saja yang saya beritahukan tanggal tersebut. Sedangkan hari yang dipublis biasanya hari yang sesuai akte kelahiran.

Saat merenung sejenak di hari ulang tahun. Saya semakin bertanya-tanya apakah sebenarnya makna ulang tahun tersebut. Apakah yang saya harapkan dengan datangnya tanggal ulang tahun saya di tahun ini atau mungkin tahun besok ???

Dalam perenungan saya, saya mendapati saya tipe orang yang introvert dan juga cukup phlegma. Jadi saya bukanlah orang yang haus akan ‘selametan’, "selamat ulang tahun.. dan bla.. bla.. bla-nya" Saya malah memilih sebaliknya saya lebih suka ‘diam’..

Dalam ke"diam"an saya , saya semakin menyadari apa itu artinya ulang tahun..
Hanya satu kata yang dapat menyatakan itu , Ebenezer (אבן העזר) : Sampai Disini Tuhan menolong saya.

Iya.. Bahkan samapai saat ini Tuhan masih menolong saya..
saya semakin menyadari bahwa sepanjang kisah kehidupan saya hanya Allah lah yang memegang kendali atas semuanya, walaupun ada free will saya tapi semuanya dibawah kedaulatan Allah..

Iya , bahkan sampai umur ini , disini Allah menolong saya. Saya bisa melalui 1 tahun itu bersama Allah dan karena Allah saja lah.Semua karena anugrahNya dan belas kasihanNya..

Bisa hidup berjalan bersama-sama dengan Allah sajalah itu yang menjadi wish saya dihari special ini. Dan semakin disanggupkan untuk berkata “ With God is enough for me”

Tuhan semakin saya melihat kebelakang kisah saya semakin saya bersyukur mempunyai Allah seperti Engkau yang tidak pernah meninggalkan saya sedetik pun. Dan sekarang ketika saya merasakan tangan setia Mu yang selalu menopang saya dan karaya SalibMu yang sungguh ajaib luar biasa, saya bersyukur punya Allah seperti Engkau. Bahkan sampai hari depan esok yang tiada saya tau apa yang akan terjadi Engkau Allah yang tetap akan selalu menjaga dengan Kasih Setia dan belas kasihan Mu akan menuntun saya melalui hari demi hari tersebut sampai saya berjumpa dengan Engkau dan ditemui setia di hadapanMu.. Amien


-d^^-